Mengapa Lantai Mataf di Masjidil Haram Selalu Dingin Meski Cuaca Panas? Fakta di Balik Mitos



ElangUpdate - Jakarta 22 Februari 2026 -  Di tengah terik matahari Mekkah yang bisa mencapai suhu di atas 45°C, jutaan jemaah haji dan umrah yang mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram sering kali terkejut dengan sensasi dingin yang menyentuh telapak kaki mereka. 

Lantai marmer putih yang mengelilingi Ka'bah, dikenal sebagai area mataf, tetap terasa sejuk meskipun terpapar sinar matahari langsung sepanjang hari. 

Fenomena ini telah menjadi topik pembicaraan selama bertahun-tahun, memicu berbagai spekulasi dan mitos di media sosial. 

Beberapa orang percaya ada sistem pendingin canggih seperti pipa air dingin di bawah lantai, sementara yang lain mengaitkannya dengan keberkahan spiritual dari Baitullah. 

Namun, apa sebenarnya rahasia di balik kesejukan ini? Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas fakta ilmiah dan teknisnya, sambil membantah informasi salah yang sering beredar.

Pengalaman Jemaah: Sensasi Dingin yang Menakjubkan

Bayangkan Anda berada di Mekkah pada musim panas, di mana suhu udara bisa melampaui 50°C. Udara panas menyengat kulit, tapi saat kaki telanjang menyentuh lantai marmer putih di area tawaf, rasanya seperti berjalan di atas permukaan yang baru saja disiram air dingin. 

Pengalaman ini dialami oleh jutaan muslim setiap tahunnya, baik selama haji maupun umrah. Banyak jemaah yang membagikan cerita mereka di media sosial, seperti di platform X (sebelumnya Twitter), di mana postingan tentang "lantai dingin Ka'bah" sering menjadi viral.

Misalnya, seorang jemaah dari Indonesia mungkin bertanya-tanya, "Bagaimana mungkin lantai ini tetap dingin sementara aspal di luar sana panas membara?" 

Jawabannya bukan pada mukjizat supernatural semata, melainkan pada pemilihan material yang cerdas dan rekayasa arsitektur yang bijaksana oleh otoritas Saudi Arabia. 

Namun, sebelum kita membahas fakta, mari kita lihat mitos yang sering salah kaprah.

Mitos yang Beredar: Pipa Pendingin dan Lapisan Isolasi

Salah satu mitos populer yang sering beredar di internet adalah bahwa lantai mataf dilengkapi dengan sistem pendingin berupa pipa air dingin yang mengalir di bawah permukaan marmer. 

Sebuah diagram yang viral menunjukkan lapisan marmer putih di atas, diikuti oleh beton khusus berisolasi, dan pipa pendingin di bagian bawah. 

Diagram ini sering disertai klaim bahwa marmer Thassos dari Yunani dikombinasikan dengan teknologi modern untuk menjaga suhu tetap rendah.

Namun, informasi ini tidak benar dan bahkan mengandung kesalahan ilmiah dasar. 

Pertama, jika ada lapisan isolasi di antara pipa pendingin dan marmer, bagaimana panas bisa ditransfer secara efektif? Ini melanggar prinsip dasar perpindahan panas dalam fisika, di mana isolasi justru menghalangi aliran dingin ke atas. 

Kedua, otoritas resmi seperti General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques telah berulang kali membantah adanya pipa pendingin di bawah lantai mataf. 

Mereka menegaskan bahwa kesejukan lantai sepenuhnya berasal dari sifat alami material yang digunakan, bukan dari sistem mekanis apa pun.

Mitos ini mungkin berawal dari kesalahpahaman tentang sistem pendingin di bagian dalam masjid, seperti AC raksasa yang mendinginkan ruang shalat tertutup. 

Pada tahun 2025, Saudi Arabia memang meluncurkan sistem pendingin terbesar di dunia dengan kapasitas 155.000 ton refrigerasi untuk Masjidil Haram secara keseluruhan, tetapi ini ditujukan untuk area dalam ruangan, bukan lantai terbuka di mataf. 

Stasiun pendingin seperti Shamiya dan Ajyad memompa udara dingin melalui ventilasi, tapi tidak ada pipa di bawah lantai tawaf.

Fakta Ilmiah: Rahasia Marmer Thassos dari Yunani

Jadi, apa yang membuat lantai tetap dingin? Jawabannya terletak pada jenis marmer khusus yang digunakan: Marmer Thassos, yang diimpor dari Pulau Thassos di Yunani. Marmer ini bukan sembarang batu; ia memiliki sifat unik yang membuatnya ideal untuk lingkungan panas seperti Mekkah.

Marmer Thassos adalah jenis dolomitik dengan reflektansi surya tinggi dan koefisien penyerapan panas rendah. Berbeda dengan material gelap seperti aspal yang menyerap dan menyimpan panas, marmer ini memantulkan sebagian besar sinar matahari yang datang. 

Hasilnya, suhu permukaan tetap jauh lebih rendah daripada material lain, bahkan setelah terpapar sinar matahari berjam-jam.

Studi ilmiah mendukung hal ini. Sebuah penelitian tahun 2022 yang diterbitkan di Journal of The Institution of Engineers (India) Series D menganalisis sifat termofisik marmer Thassos. 

Peneliti menemukan bahwa marmer ini memiliki konduktivitas termal lebih tinggi daripada marmer putih biasa, memungkinkan panas menyebar dengan cepat ke bawah dan samping, bukan menumpuk di permukaan. 

Selain itu, pori-pori mikroskopis di marmer menyerap kelembaban udara malam hari, yang kemudian menguap secara perlahan di siang hari, menciptakan efek pendinginan evaporatif alami.

Penelitian lain pada tahun 2021, berjudul "Cool White Marble Pavement Thermophysical Assessment at Al Masjid Al-Haram, Makkah City, Saudi Arabia," menggunakan data cuaca lokal dan model termal untuk membuktikan bahwa reflektansi tinggi marmer ini secara signifikan menurunkan suhu permukaan. Hasilnya, lantai tetap nyaman untuk berjalan telanjang kaki, mencegah luka bakar pada jemaah.

Tebal marmer yang digunakan juga berperan: sekitar 5 cm, yang membantu menjaga kestabilan suhu. Di bawah marmer, ada lapisan isolasi khusus yang mencegah panas dari tanah naik ke atas, tapi ini bukan untuk memblokir pendingin buatan melainkan untuk mempertahankan kesejukan alami marmer. Dasar beton yang kuat di bawahnya dirancang untuk menahan beban jutaan orang, memastikan struktur tahan lama.

Sejarah Renovasi dan Pemilihan Material

Pemilihan marmer Thassos bukan keputusan baru. Renovasi besar-besaran Masjidil Haram dimulai pada era Raja Abdulaziz dan terus berkembang di bawah pemerintahan berikutnya. Pada 2010-an, proyek ekspansi raksasa melibatkan penggantian lantai mataf dengan marmer ini untuk mengakomodasi peningkatan jumlah jemaah.

General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques, yang bertanggung jawab atas pemeliharaan, memilih Thassos karena kemampuannya menahan suhu ekstrem. Pulau Thassos di Yunani telah menjadi sumber marmer berkualitas tinggi selama ribuan tahun, digunakan dalam arsitektur kuno seperti Parthenon. Di Mekkah, ini mungkin aplikasi marmer permukaan terbesar di dunia, mencakup ribuan meter persegi.

Proses instalasi melibatkan teknik presisi untuk memastikan daya tahan. Marmer dipasang dengan konfigurasi kristal 2mm yang meminimalkan porositas sambil meningkatkan konduktivitas termal. Aliran udara alami di area terbuka masjid, ditambah pergerakan konstan jemaah, membantu sirkulasi udara di permukaan, memperkuat efek pendinginan.

Pentingnya dalam Ibadah Islam

Kesejukan lantai bukan hanya soal kenyamanan fisik; ia memiliki makna spiritual mendalam. Dalam Islam, tawaf adalah ritual inti haji dan umrah, melambangkan kesatuan umat muslim di sekitar Ka'bah. Lantai yang nyaman memungkinkan jemaah fokus pada ibadah tanpa terganggu panas, mencerminkan rahmat Allah SWT.

Al-Qur'an dan hadis menekankan pentingnya kemudahan dalam ibadah. Rasulullah SAW bersabda, "Agama itu mudah" (HR. Bukhari). Fasilitas seperti lantai dingin ini adalah bentuk implementasi prinsip itu, membantu jutaan muslim dari seluruh dunia menunaikan kewajiban mereka dengan khusyuk.

Selain itu, ini menunjukkan komitmen Saudi Arabia dalam merawat dua masjid suci. Dengan investasi miliaran dolar, kerajaan memastikan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tetap aman dan nyaman, termasuk sistem pendingin udara untuk area dalam dan mist-spraying di jalanan sekitar.

Tips untuk Jemaah: Maksimalkan Pengalaman Anda

Jika Anda berencana berkunjung ke Mekkah, berikut beberapa tips untuk menikmati kesejukan lantai mataf:

  • Waktu Terbaik: Lakukan tawaf di pagi atau malam hari ketika suhu lebih rendah, meskipun lantai tetap dingin sepanjang hari.
  • Persiapan Fisik: Minum air zamzam secara teratur untuk menghindari dehidrasi, dan gunakan alas kaki jika di luar area mataf.
  • Hindari Mitos: Bagikan fakta benar kepada sesama jemaah untuk mencegah penyebaran informasi salah.
  • Aplikasi Pendukung: Gunakan app resmi seperti Nusuk untuk mengatur jadwal umrah dan menghindari kerumunan.

Dengan memahami ilmu di baliknya, pengalaman ibadah Anda akan semakin bermakna.

Kesimpulan: Kombinasi Ilmu dan Keberkahan

Lantai mataf di Masjidil Haram tetap dingin bukan karena pipa pendingin ajaib, melainkan berkat sifat alami marmer Thassos yang dipilih dengan cermat. 

Ini adalah contoh sempurna bagaimana ilmu pengetahuan dan rekayasa mendukung praktik keagamaan, menciptakan lingkungan yang nyaman untuk ibadah. 

Meskipun mitos terus beredar, fakta dari sumber resmi seperti otoritas Saudi menegaskan bahwa kesejukan ini adalah hasil dari material berkualitas tinggi dan desain arsitektur pintar.

Di era informasi digital, penting bagi kita untuk memverifikasi fakta sebelum membagikannya. Semoga artikel ini membantu meluruskan kesalahpahaman dan menambah wawasan Anda tentang keajaiban Masjidil Haram. Jika Anda pernah mengalami sensasi ini, bagikan pengalaman Anda di komentar!

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Mengapa Lantai Mataf di Masjidil Haram Selalu Dingin Meski Cuaca Panas? Fakta di Balik Mitos
  • Mengapa Lantai Mataf di Masjidil Haram Selalu Dingin Meski Cuaca Panas? Fakta di Balik Mitos
  • Mengapa Lantai Mataf di Masjidil Haram Selalu Dingin Meski Cuaca Panas? Fakta di Balik Mitos
  • Mengapa Lantai Mataf di Masjidil Haram Selalu Dingin Meski Cuaca Panas? Fakta di Balik Mitos
  • Mengapa Lantai Mataf di Masjidil Haram Selalu Dingin Meski Cuaca Panas? Fakta di Balik Mitos
  • Mengapa Lantai Mataf di Masjidil Haram Selalu Dingin Meski Cuaca Panas? Fakta di Balik Mitos

Posting Komentar

0%
Komentar 0 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link