Benarkah Iran & Rusia Siapkan 80.000 Drone Shahed untuk Perang Global 2026?



Jakarta, 28 Januari 2026 – Klaim bahwa Iran kini memiliki stok sekitar 80.000 unit drone Shahed siap tempur dan mampu memproduksi 400 unit per hari telah menjadi perbincangan hangat di kalangan analis militer global. 

Angka ini, jika benar, menandakan lompatan dramatis dalam kapabilitas industri pertahanan Iran, terutama melalui kolaborasi erat dengan Rusia. 

Drone Shahed, khususnya model Shahed-136 (dikenal sebagai Geran-2 di Rusia), telah menjadi simbol perang asimetris modern: murah, mudah diproduksi massal, dan efektif mengganggu sistem pertahanan udara canggih lawan.


Drone Shahed-136 dipamerkan dalam acara pencapaian IRGC Aerospace Force di Kermanshah, Iran. (Sumber: Wikipedia Commons)

Latar Belakang Drone Shahed: Dari Konsep Lokal ke Senjata Global

Drone Shahed dikembangkan oleh Shahed Aviation Industries, perusahaan di bawah kendali industri pertahanan Iran. 

Model paling ikonik, Shahed-136, adalah loitering munition atau drone kamikaze yang dirancang untuk menyerang target darat dari jarak jauh. 

Desainnya sederhana: sayap delta, mesin piston empat silinder (reverse-engineered dari Limbach L550E Jerman), navigasi kombinasi GPS/GLONASS dan inertial guidance, serta muatan peledak 40-50 kg. Jangkauan maksimal mencapai 2.000 km, membuatnya ideal untuk serangan jarak jauh tanpa risiko pilot.

Keunggulan utama Shahed terletak pada biaya produksinya yang rendah, diperkirakan antara $20.000 hingga $50.000 per unit pada tahap awal jauh di bawah rudal presisi Barat seperti Tomahawk ($2 juta) atau Storm Shadow ($1-2 juta). 

Hal ini memungkinkan strategi "swarm attack": meluncurkan ratusan drone sekaligus untuk mengoverload sistem pertahanan seperti Iron Dome Israel atau Patriot AS.

Iran mulai mengembangkan Shahed sejak akhir 2010-an, dengan penggunaan pertama oleh kelompok proksi seperti Houthi di Yaman, milisi Syiah di Irak, dan pasukan di Suriah. 

Namun, drone ini mencapai ketenaran global setelah Rusia mengadopsinya dalam invasi ke Ukraina sejak 2022. 

Rusia awalnya mengimpor ribuan unit dari Iran, kemudian membangun fasilitas produksi sendiri di Alabuga, Tatarstan, melalui kesepakatan bernilai sekitar $1,75 miliar.


Produksi Massal di Iran: Klaim 80.000 Unit dan 400 Unit per Hari

Klaim stok 80.000 unit Shahed siap tempur pada 2026 mencakup varian utama seperti Shahed-136 standar, Shahed-131 (versi kecil), dan upgrade Shahed-238 bertenaga jet (kecepatan hingga 600 km/jam, lebih sulit dicegat). 

Jika produksi mencapai 400 unit per hari, output tahunan bisa mencapai 146.000 unit asumsi operasi penuh sepanjang tahun tanpa gangguan.

Namun, laporan intelijen dan analis independen menunjukkan bahwa angka produksi tinggi ini lebih akurat untuk Rusia daripada Iran. Pada awal 2026, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Rusia memproduksi sekitar 500 drone Shahed per hari di Alabuga. 

Komandan militer Ukraina juga melaporkan lebih dari 400 unit per hari, dengan rencana mencapai 1.000 unit per hari dalam waktu dekat. 

Produksi Rusia telah melonjak dari ratusan per bulan pada 2023-2024 menjadi ribuan per bulan pada 2025-2026.

Iran sendiri, meski menjadi asal desain, memiliki kapasitas produksi yang lebih terbatas karena sanksi internasional yang membatasi akses komponen elektronik canggih. 

Estimasi independen menunjukkan produksi Iran mungkin hanya puluhan hingga ratusan unit per bulan, dengan banyak komponen diselundupkan melalui jaringan China dan pihak ketiga. 

Angka 80.000 kemungkinan berasal dari kesalahpahaman laporan tentang kekuatan personel unmanned systems Rusia (sekitar 80.000 orang), bukan stok drone Iran.

Peran Rusia dalam Meningkatkan Kapabilitas Iran

Kolaborasi Iran-Rusia dimulai intens pada 2022, ketika Teheran memasok ribuan Shahed ke Moskow. Awalnya, Rusia membayar hingga $193.000 per unit untuk impor. 

Setelah lokalisasi produksi di Alabuga, biaya turun menjadi $70.000-$80.000 per unit. Rusia menyelesaikan target 6.000 unit lebih cepat dari jadwal (awalnya September 2025) dan kini memproduksi hingga ribuan per bulan.

Bantuan Rusia ke Iran meliputi:

  • Transfer teknologi produksi massal, otomatisasi lini, dan optimalisasi rantai pasok.
  • Data performa dari ribuan peluncuran di Ukraina, termasuk hardening terhadap jamming elektronik dan upgrade warhead.
  • Bantuan membangun fasilitas redundan untuk menghindari serangan udara.
  • Akses potensial ke material melalui jaringan Rusia, meski sanksi tetap menjadi tantangan.

Meski demikian, hubungan ini tidak selalu mulus. Beberapa laporan menyebut Rusia telah menguasai 90% produksi Geran-2 secara domestik, membuat Iran merasa kurang mendapat balasan seperti pengiriman jet Su-35 atau sistem S-400. 

Namun, secara keseluruhan, kemitraan ini saling menguntungkan: Iran mendapat pengalaman tempur nyata dan peningkatan desain, sementara Rusia memperoleh senjata murah untuk strategi swarming di Ukraina.


Implikasi Strategis bagi Keamanan Regional dan Global

Jika Iran benar-benar mencapai stok besar dan produksi tinggi, ini memberikan deterrence kuat terhadap musuh seperti Israel atau AS di Timur Tengah. Strategi swarm attack bisa meluncurkan ratusan hingga ribuan drone untuk menguras cadangan rudal interceptor lawan. 

Di Ukraina, peluncuran Shahed sering mencapai ratusan per malam, memaksa Kyiv mengembangkan counter seperti interceptor drone murah.

Bagi Rusia, kolaborasi ini telah mengubah dinamika perang. Produksi domestik tinggi memungkinkan serangan berkelanjutan tanpa bergantung penuh pada Iran. 

Namun, drone Shahed tetap rentan: mudah di-jam, dicegat oleh sistem murah, dan fasilitas produksi bisa menjadi target serangan preventif.

Sanksi Barat terus membatasi akses komponen kritis, tapi Iran dan Rusia menemukan workaround melalui China dan jaringan gelap. 

Perkembangan ini juga memengaruhi pasar ekspor: drone Shahed murah bisa diekspor ke sekutu seperti Houthi atau milisi Irak, mengubah keseimbangan kekuatan regional.

Kesimpulan: Era Perang Asimetris yang Didominasi Drone Murah

Klaim 80.000 Shahed siap tempur dan produksi 400 unit per hari, meski mungkin ada kesalahan atribusi dengan capaian Rusia, menandai era baru di mana negara seperti Iran dan Rusia menantang superioritas teknologi Barat melalui volume produksi dan biaya rendah. 

Kolaborasi strategis ini tidak hanya memperkuat pertahanan kedua negara tapi juga memengaruhi konflik global, dari Ukraina hingga Timur Tengah.

Inovasi tidak selalu datang dari anggaran militer terbesar, melainkan dari adaptasi cerdas dan kemitraan. Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, kapabilitas drone Shahed menjadi faktor krusial yang harus diperhitungkan dalam setiap analisis keamanan internasional. 

Dunia kini menyaksikan bagaimana senjata sederhana bisa mengubah paradigma perang modern.

(Artikel ini disusun berdasarkan laporan publik, analisis intelijen, dan sumber terbuka hingga Januari 2026. Estimasi produksi dapat berubah seiring perkembangan situasi.)



Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Benarkah Iran & Rusia Siapkan 80.000 Drone Shahed untuk Perang Global 2026?
  • Benarkah Iran & Rusia Siapkan 80.000 Drone Shahed untuk Perang Global 2026?
  • Benarkah Iran & Rusia Siapkan 80.000 Drone Shahed untuk Perang Global 2026?
  • Benarkah Iran & Rusia Siapkan 80.000 Drone Shahed untuk Perang Global 2026?
  • Benarkah Iran & Rusia Siapkan 80.000 Drone Shahed untuk Perang Global 2026?
  • Benarkah Iran & Rusia Siapkan 80.000 Drone Shahed untuk Perang Global 2026?

Posting Komentar

0%
Komentar 0 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link