Terbongkar! Strategi Marketing Paylater yang Diam-Diam Menjebak Konsumen ke Lingkaran Utang
ElangUpdate - Jakarta, 12 Februari 2026 - Di era digital saat ini, layanan paylater semakin populer di kalangan masyarakat, terutama di Indonesia. Dengan slogan-slogan menggiurkan seperti "bunga 0%", "bayar bulan depan", atau "cicilan ringan tanpa kartu kredit", banyak orang tergoda untuk menggunakan layanan ini.
Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan berbagai trik marketing yang dirancang untuk membuat pengguna terjebak dalam utang yang tak terduga.
Artikel ini akan membahas secara mendalam berbagai kebohongan yang sering digunakan oleh penyedia paylater, berdasarkan pengalaman dan analisis umum.
Kita akan mengupas satu per satu, lengkap dengan contoh nyata dan tips menghindarinya, agar Anda bisa mengelola keuangan dengan lebih bijak.
Mari kita mulai dari dasar: mengapa paylater tampak begitu menarik, tapi sebenarnya penuh risiko?
Pendahuluan: Mengapa Paylater Begitu Menggoda?
Paylater, atau layanan beli sekarang bayar nanti, telah menjadi bagian integral dari e-commerce. Platform seperti Shopee PayLater, GoPay Later, atau Akulaku menawarkan kemudahan berbelanja tanpa harus membayar langsung.
Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengguna fintech lending di Indonesia mencapai jutaan orang pada tahun 2025, dengan pertumbuhan pesat.
Namun, popularitas ini bukan tanpa alasan. Marketing mereka memanfaatkan psikologi konsumen: keinginan instan, rasa aman palsu, dan ilusi hemat.
Sayangnya, banyak yang tidak sadar bahwa di balik itu semua, ada biaya tersembunyi yang bisa membuat tagihan membengkak.
Dalam thread populer di X akun bernama https://x.com/hanifproduktif (sebelumnya Twitter), seorang pengguna membagikan pengalaman pribadinya, yang menjadi inspirasi artikel ini.
Kita akan expand poin-poin tersebut menjadi panduan lengkap untuk menghindari jebakan.
Kebohongan Pertama: "Bunga 0%" yang Sebenarnya Tidak Gratis
Slogan "bunga 0%" sering menjadi daya tarik utama. Bayangkan Anda berbelanja barang senilai Rp1 juta dengan cicilan tanpa bunga.
Kedengarannya ideal, bukan? Namun, realitanya, meskipun bunga dinyatakan nol, ada biaya administrasi yang dikenakan.
Misalnya, biaya admin Rp25.000 untuk transaksi tersebut. Jika dihitung, itu setara dengan 2,5% per bulan, atau sekitar 30% per tahun lebih tinggi daripada bunga kartu kredit konvensional yang rata-rata 2-3% per bulan.
Kenapa ini jebakan? Karena istilah "bunga 0%" hanyalah permainan kata. Penyedia paylater mengganti istilah bunga dengan "biaya layanan" atau "admin fee" untuk membuatnya terlihat lebih ramah. Dalam praktiknya, ini sama saja dengan bunga.
Contoh nyata: Saat membeli gadget di platform e-commerce, harga cicilan sering kali sudah termasuk biaya tambahan ini.
Jika Anda tidak membaca syarat dan ketentuan dengan teliti, Anda bisa kehilangan puluhan ribu rupiah tanpa sadar.
Untuk menghindarinya, selalu hitung total pembayaran akhir dan bandingkan dengan harga cash. Jika total cicilan melebihi harga asli, itu pertanda ada biaya tersembunyi.
Kebohongan Kedua: "Bayar Bulan Depan" yang Berisiko Denda Tinggi
Fitur "bayar bulan depan" terdengar seperti penundaan sederhana, tapi ini bisa menjadi bom waktu. Bayangkan Anda membeli barang Rp500.000 hari ini dan menunda pembayaran hingga bulan berikutnya.
Namun, tagihan itu datang dengan biaya admin Rp15.000. Lebih buruk lagi, jika telat satu hari saja, denda bisa mencapai Rp50.000 atau lebih, tergantung platform.
Denda ini bisa menumpuk secara harian, membuat tagihan Rp500.000 berubah menjadi Rp600.000 atau lebih hanya dalam seminggu.
Psikologisnya, fitur ini memanfaatkan bias sekarang (present bias), di mana manusia cenderung memprioritaskan kepuasan instan daripada konsekuensi jangka panjang.
Banyak pengguna yang berpikir, "Ah, bulan depan pasti ada gaji," tapi lupa bahwa pengeluaran tak terduga bisa muncul. Hasilnya? Stres finansial dan siklus utang.
Saran: Gunakan fitur ini hanya untuk kebutuhan darurat, dan pastikan Anda punya dana cadangan untuk membayar tepat waktu.
Kebohongan Ketiga: Peningkatan Limit sebagai "Reward" yang Sebenarnya Jebakan
Saat limit paylater Anda dinaikkan, seperti dari Rp5 juta menjadi Rp10 juta, itu sering dipromosikan sebagai "penghargaan untuk pengguna setia". Namun, ini bukan hadiah—ini strategi untuk mendorong Anda berutang lebih banyak. Penyedia paylater untung dari biaya dan denda, jadi limit tinggi berarti potensi pendapatan lebih besar bagi mereka. Jika Anda gagal bayar, mereka bisa mengenakan denda tinggi atau bahkan menyerahkan kasus ke penagih utang.
Dalam perspektif keuangan, ini mirip dengan jebakan kartu kredit di masa lalu. Studi dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan limit sering kali menyebabkan over-spending. Contoh: Seorang karyawan dengan gaji Rp7 juta merasa "kaya" dengan limit Rp20 juta, tapi akhirnya terjebak utang yang melebihi kemampuan bayar. Hindari dengan menetapkan batas pribadi: Jangan gunakan lebih dari 30% limit, dan tolak peningkatan jika tidak perlu.
Kebohongan Keempat: Markup Harga Barang Saat Menggunakan Paylater
Sering kali, harga barang di e-commerce lebih tinggi jika dibayar dengan paylater dibandingkan cash. Misalnya, sebuah smartphone Rp3 juta cash, tapi Rp3,15 juta via paylater. Mengapa? Karena merchant dikenai fee 3-5% oleh penyedia paylater, dan fee ini dialihkan ke konsumen melalui markup harga.
Ini adalah bentuk biaya tersembunyi yang jarang disadari. Merchant untung karena bisa menjual ke lebih banyak orang, tapi Anda yang rugi. Untuk mengatasinya, selalu bandingkan harga di berbagai platform atau metode pembayaran. Gunakan tools seperti price tracker untuk memastikan Anda mendapatkan deal terbaik.
Kebohongan Kelima: "Cicilan Ringan" dengan Total Pembayaran Lebih Mahal
Cicilan Rp200.000 per bulan selama 12 bulan terdengar mudah, tapi hitung total: Rp2,4 juta untuk barang Rp2 juta. Itu berarti Anda bayar Rp400.000 lebih! Fokus pada cicilan bulanan membuat orang lupa total biaya, sebuah trik klasik dalam marketing keuangan.
Perbandingan dengan pinjaman bank: Cicilan bank sering lebih transparan dengan bunga tetap. Di paylater, biaya bisa bervariasi. Tips: Gunakan kalkulator cicilan online untuk hitung total sebelum commit.
Kebohongan Keenam: "Lebih Mudah dari Kartu Kredit" tapi Lebih Mahal
Paylater dipromosikan sebagai alternatif kartu kredit tanpa ribet, tapi sebenarnya lebih mahal. Kartu kredit punya grace period 45 hari tanpa bunga, sementara paylater kenakan biaya dari hari pertama. Ini membuat paylater kurang efisien untuk pembelian besar.
Siapa yang Diuntungkan dari Paylater?
Penyedia paylater untung dari fee, bunga, dan denda. Merchant untung dari peningkatan penjualan. Anda? Hanya jika digunakan bijak. Sayangnya, model bisnis mereka bergantung pada pengguna yang terjebak utang.
Tanda-Tanda Anda Sudah Terjebak
- Membeli barang tidak perlu karena bisa dicicil.
- Hanya bayar minimum payment.
- Menggunakan satu paylater untuk bayar yang lain.
- Senang saat limit dinaikkan.
- Tidak tahu total utang.
Jika dua atau lebih berlaku, saatnya evaluasi.
Cara Keluar dari Jebakan Paylater
- Catat semua paylater dan total utang.
- Bayar yang bunga tertinggi dulu (debt avalanche method).
- Berhenti gunakan untuk pembelian baru.
- Uninstall app untuk hindari godaan.
- Hubungi customer service untuk restrukturisasi jika sulit.
Jangan malu minta bantuan; ini langkah cerdas.
Kesimpulan: Kembali ke Dasar Keuangan Sehat
Paylater bukan alat finansial buruk, tapi jebakan marketingnya bisa merugikan. Ingat: Jika tidak bisa bayar cash sekarang, mungkin Anda belum mampu. Dari pengalaman pribadi banyak orang, termasuk yang dibagikan di media sosial, hidup tanpa utang impulsif jauh lebih tenang. Mulailah dengan budgeting sederhana, seperti aturan 50/30/20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan). Dengan begitu, Anda bisa menghindari jebakan dan membangun kekayaan jangka panjang. Semoga artikel ini membantu Anda menjadi konsumen yang lebih cerdas!
- Sopan dan Menghargai — Komentar yang mengandung ujaran kebencian, diskriminasi, atau pelecehan akan dihapus.
- Fokus pada Topik — Hindari spam atau komentar yang tidak relevan dengan konten.
- Gunakan Bahasa yang Baik — Hindari kata-kata kasar atau tidak pantas.
- Tidak Mengiklankan — Komentar yang mengandung promosi pribadi atau iklan akan dihapus.
- Patuhi Hukum — Komentar yang melanggar hak cipta atau norma hukum akan ditindak tegas.
