Dugaan Upaya Kudeta Militer di Tiongkok: Baku Tembak, Penahanan Jenderal, dan Gejolak Politik pada 2026
![]() |
| Gambar hanya ilustrasi |
ElangUpdate | 27 Januari 2026 – Pada akhir Januari 2026, dunia dikejutkan oleh laporan-laporan yang beredar mengenai dugaan upaya kudeta militer di Tiongkok yang bertujuan menggulingkan Presiden Xi Jinping.
Menurut sumber-sumber yang dikutip oleh media internasional seperti Reuters dan Bloomberg, terjadi aksi tembak-menembak antara pasukan yang loyal kepada Jenderal Zhang Youxia dan pengawal keamanan presiden.
Insiden ini dilaporkan mengakibatkan beberapa pengawal Xi Jinping terluka atau bahkan tewas. Selain itu, dua jenderal kunci termasuk Zhang Youxia sendiri dilaporkan telah ditahan bersama dengan anggota keluarga mereka serta hingga 3.000 personel militer.
Peristiwa ini bukan hanya menandai puncak dari kampanye pembersihan anti-korupsi Xi yang telah berlangsung bertahun-tahun, tetapi juga mengungkap kerentanan internal di dalam struktur kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKC) dan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Latar Belakang Kampanye Pembersihan Xi Jinping
Sejak naik tahta pada 2012, Xi Jinping telah menjadikan perang melawan korupsi sebagai senjata utama untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya. Kampanye ini, yang sering disebut sebagai "pembersihan besar-besaran," telah menargetkan ribuan pejabat tinggi di PKC, pemerintahan, dan militer.
Tujuannya bukan hanya membersihkan korupsi, tetapi juga memastikan loyalitas mutlak terhadap Xi sebagai Ketua Komisi Militer Pusat (CMC).
Pada Oktober 2025, misalnya, sembilan jenderal senior dipecat dari PKC atas tuduhan pelanggaran disiplin serius, termasuk He Weidong, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua CMC. Pembersihan ini mencakup mantan Menteri Pertahanan Li Shangfu dan Wei Fenghe, serta komandan Pasukan Roket PLA, yang dituduh terlibat dalam korupsi pengadaan senjata.
Zhang Youxia, seorang jenderal berusia 75 tahun, selama ini dianggap sebagai sekutu terdekat Xi. Keduanya berasal dari Provinsi Shaanxi, dan ayah mereka pernah bertempur bersama selama Revolusi Tiongkok di bawah Mao Zedong.
Zhang memiliki pengalaman tempur nyata dari perang Tiongkok-Vietnam pada 1979, membuatnya menjadi salah satu figur militer paling dihormati. Ia dipertahankan melebihi usia pensiun standar karena kepercayaan Xi padanya.
Namun, pada 24 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Tiongkok mengumumkan bahwa Zhang sedang diselidiki atas "pelanggaran serius terhadap disiplin partai dan hukum negara." Tuduhan ini mencakup dugaan pembocoran informasi rahasia program senjata nuklir Tiongkok ke Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), penerimaan suap untuk promosi jabatan, serta pembentukan faksi politik yang mengancam kepemimpinan Xi.
Bersamaan dengan Zhang, Jenderal Liu Zhenli, Kepala Departemen Staf Gabungan CMC, juga menjadi target penyelidikan. Liu, yang ditunjuk pada 2022, dianggap sebagai bagian dari generasi baru pemimpin militer yang loyal.
Namun, laporan menunjukkan bahwa keduanya diduga merencanakan aksi yang lebih besar, termasuk mobilisasi pasukan untuk kudeta dengan slogan "Selamatkan Partai, Selamatkan Negara." Pengumuman ini langsung merombak struktur CMC, meninggalkan hanya Xi dan satu wakil ketua baru, Zhang Shengmin, yang memimpin badan anti-korupsi militer. Ini merupakan perombakan terbesar sejak era Mao, menunjukkan konsentrasi kekuasaan yang ekstrem di tangan Xi.
Detail Dugaan Upaya Kudeta dan Baku Tembak
Rumor mengenai kudeta mulai beredar luas di media sosial dan laporan independen pada pertengahan Januari 2026. Menurut sumber-sumber seperti penulis Kanada Sheng Xue dan situs Military Review, pasukan loyal kepada Zhang berencana menangkap Xi di Hotel Jingxi, Beijing, yang sering digunakan untuk pertemuan elite PKC.
Konon, intelijen Xi mendapatkan bocoran dua jam sebelum aksi dimulai, sehingga pengawal presiden dikerahkan dengan cepat. Saat tim pendahulu dari kubu Zhang tiba, terjadi baku tembak sengit yang menewaskan atau melukai beberapa pengawal Xi beberapa laporan menyebut hingga sembilan orang tewas.
Setelah insiden itu, Zhang, Liu, serta ratusan hingga ribuan personel militer—termasuk anggota keluarga mereka—ditangkap. Angka penahanan disebut mencapai sekitar 3.000 orang, meskipun ini belum diverifikasi secara independen.
Operasi Staf Umum PLA sempat terganggu, dan media resmi PLA Daily menerbitkan editorial yang mengecam kedua jenderal karena "mengkhianati kepercayaan partai" dan "merusak fondasi kekuasaan PKC."
Beberapa analis, seperti Christopher Johnson, mantan analis CIA, menyebut ini sebagai "penghancuran total komando tinggi," di mana enam jenderal yang ditunjuk pada 2022 semuanya telah digulingkan.
Pemerintah Tiongkok tidak pernah mengonfirmasi adanya baku tembak atau kudeta secara langsung. Semua informasi berasal dari sumber anonim, media asing, dan spekulasi online, termasuk postingan di platform X yang menyebutkan bentrokan antara faksi-faksi dalam PLA.
Namun, tuduhan bocornya rahasia nuklir dianggap sebagai "cerita penutup" untuk menyembunyikan motif politik yang lebih dalam, seperti ketidakpuasan atas kebijakan Xi terkait Taiwan, ekonomi yang melambat, atau pembatasan "pejabat telanjang" (pejabat dengan keluarga di luar negeri).
Dampak Terhadap Militer dan Politik Internal Tiongkok
Peristiwa ini menimbulkan dampak luas terhadap kesiapan tempur PLA. Pembersihan berulang telah memperlambat modernisasi militer, khususnya pengadaan senjata canggih, karena banyak pejabat terlibat dalam korupsi.
Analis khawatir hal ini melemahkan kemampuan PLA untuk operasi besar, seperti invasi potensial ke Taiwan.
Setiap jenderal yang merencanakan operasi Taiwan kini telah diganti, meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang bisa memengaruhi rencana 2027.
Secara politik, konsentrasi kekuasaan di tangan Xi semakin ekstrem. Dengan CMC yang kini hampir sepenuhnya dikendalikan olehnya, Xi memiliki kendali mutlak atas militer.
Ini memperkuat posisinya menghadapi tantangan eksternal, tetapi juga menunjukkan rasa tidak aman internal bahkan sekutu terdekat seperti Zhang pun tidak kebal.
Para pengamat seperti Neil Thomas dari Asia Society Policy Institute menyebut ini sebagai "pembersihan terbesar dalam sejarah modern PLA," yang menekankan loyalitas politik di atas kompetensi militer.
Implikasi geopolitik juga signifikan. Di tengah ketegangan dengan AS, rumor bocornya rahasia nuklir memperburuk hubungan bilateral.
Beberapa pengamat menyebut ini sebagai sinyal bahwa Xi sedang membersihkan elemen pro-Barat untuk mempersiapkan konfrontasi lebih besar. Selain itu, bagi PKC, peristiwa ini menggarisbawahi prioritas loyalitas mutlak, di mana "sistem tanggung jawab ketua CMC" menjadi dogma utama.
Dugaan kudeta terhadap Xi Jinping pada 2026 tetap berada di ranah spekulasi karena kurangnya bukti resmi dari Beijing.
Namun, pengumuman penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli menandai babak baru dalam kampanye anti-korupsi Xi yang tak kenal ampun. Ini bukan sekadar soal korupsi, melainkan perebutan kekuasaan di puncak tertinggi Tiongkok.
Laporan dari berbagai sumber, termasuk postingan di X, menunjukkan adanya ketegangan internal yang mendalam, di mana bahkan ikatan pribadi dan sejarah keluarga tidak menjamin keselamatan.
Bagi pengamat internasional, peristiwa ini mengingatkan bahwa politik elite Tiongkok adalah sebuah kotak hitam yang sulit ditebak.
Meski rumor kudeta mungkin berlebihan, fakta bahwa Xi berani menyingkirkan sekutu terdekatnya menunjukkan tingkat paranoia atau kepercayaan diri yang tinggi. Masa depan PLA dan stabilitas Tiongkok kini lebih bergantung pada satu orang: Xi Jinping.
Apakah ini akhir dari pembersihan, atau awal dari gejolak lebih besar? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal pasti: di era Xi, tidak ada yang benar-benar aman, bahkan mereka yang pernah menjadi tangan kanannya.
Artikel ini disusun berdasarkan informasi publik dari berbagai sumber terpercaya pada Januari 2026, dengan tujuan memberikan gambaran komprehensif tanpa menyalin konten langsung dari artikel mana pun.


Posting Komentar