Karawang Tetapkan 4 Cagar Budaya Baru: Gedung Juang, Tugu Kebulatan Tekad, Situs Lemah Duhur Wadon, dan Hio-Lo Sian Djin Ku Po

00:00
00:00
Original Image by : @malvadhina


ElangUpdate - Jakarta,  14 Februari 2026 - Di tengah pesatnya perkembangan urbanisasi dan modernisasi, pelestarian warisan budaya menjadi semakin krusial. 

Kabupaten Karawang, yang terletak di Jawa Barat, Indonesia, baru saja mengambil langkah signifikan dalam menjaga identitas sejarahnya. 

Pada November 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang secara resmi menetapkan empat objek baru sebagai Cagar Budaya Peringkat Kabupaten. 

Keputusan ini didasarkan pada kajian mendalam dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Karawang, yang bertujuan tidak hanya untuk melindungi aset bersejarah, tetapi juga untuk mempromosikan edukasi dan pariwisata berbasis budaya. 

Karawang, dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang meliputi era kolonial Belanda, perjuangan kemerdekaan, hingga pengaruh budaya multietnis. 

Penetapan cagar budaya ini mencakup satu bangunan, dua struktur, dan satu benda bersejarah, yang masing-masing merepresentasikan lapisan waktu berbeda dalam narasi sejarah daerah ini. 

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat rasa bangga masyarakat lokal terhadap akar budayanya, sekaligus menarik wisatawan yang tertarik pada wisata sejarah. 

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi secara mendalam keempat cagar budaya baru tersebut, beserta nilai historis dan potensinya.

1. Gedung Juang Karawang: Simbol Arsitektur Kolonial yang Abadi

Gedung Juang Karawang, yang saat ini berfungsi sebagai Kantor Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Karawang, ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Bangunan ini merupakan bagian inti dari kompleks Kawedanaan Karawang yang dibangun pada Maret 1930, berdasarkan arsip sketsa dari masa Pemerintahan Hindia Belanda. 

Gaya arsitekturnya yang khas, yaitu Indische, memadukan elemen modern Eropa dengan sentuhan lokal Indonesia, seperti atap bergaya tropis dan ventilasi alami yang disesuaikan dengan iklim setempat.

Secara historis, Gedung Juang memainkan peran penting selama era kolonial dan pasca-kemerdekaan. Ia menjadi saksi bisu atas administrasi pemerintahan Belanda di wilayah Karawang, yang saat itu merupakan pusat perkebunan dan perdagangan. 

Setelah kemerdekaan, gedung ini sering digunakan untuk kegiatan perjuangan rakyat, yang membuatnya dijuluki "Gedung Juang". Pelestariannya tidak hanya melindungi struktur fisik, tetapi juga nilai-nilai perjuangan yang melekat padanya. Saat ini, gedung ini masih kokoh berdiri, menjadi landmark yang mengingatkan generasi muda akan akar sejarah mereka.

Potensi wisata dari Gedung Juang sangatlah besar. Dengan renovasi yang tepat, ia bisa menjadi museum interaktif yang menampilkan artefak kolonial dan cerita perjuangan. 

Pengunjung dapat menikmati tur arsitektur, workshop tentang sejarah lokal, atau bahkan acara budaya tahunan. 

Ini tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah melalui pariwisata, tetapi juga mendidik masyarakat tentang pentingnya menghargai warisan masa lalu di tengah era digital.

2. Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok: Monumen Perjuangan Kemerdekaan

Berpindah ke struktur cagar budaya pertama, Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok berdiri sebagai monumen peringatan yang dibangun oleh masyarakat setempat pada tahun 1955. 

Tugu ini didirikan tepat lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, di lokasi yang dulunya merupakan markas Pembela Tanah Air (PETA). 

Peresmiannya dilakukan langsung oleh Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, menandakan pentingnya situs ini dalam sejarah nasional.

Rengasdengklok sendiri terkenal karena peristiwa "Penculikan Soekarno-Hatta" pada 16 Agustus 1945, di mana para pemuda revolusioner membawa kedua pemimpin tersebut untuk mendesak proklamasi kemerdekaan. 

Tugu ini melambangkan kebulatan tekad rakyat dalam memperjuangkan kemerdekaan, dengan desain yang sederhana namun penuh makna: sebuah tugu tinggi dengan inskripsi yang menggambarkan semangat persatuan. 

Nilai historisnya tak ternilai, karena ia menghubungkan Karawang dengan narasi besar kemerdekaan Indonesia.


Dalam konteks modern, tugu ini bisa dikembangkan menjadi pusat edukasi kemerdekaan. Program seperti rekonstruksi peristiwa sejarah, seminar, atau festival budaya bisa menarik pelajar dan wisatawan. Pelestarian ini juga mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga monumen, sehingga nilai kebulatan tekad tetap relevan di era demokrasi saat ini.

3. Situs Lemah Duhur Wadon (Candi Cibuaya II): Jejak Peradaban Kuno

Situs Lemah Duhur Wadon, juga dikenal sebagai Candi Cibuaya II, merupakan struktur cagar budaya kedua yang terletak di wilayah pesisir utara Karawang. 

Situs arkeologi ini menyimpan sisa-sisa struktur bata dari masa klasik, yang menjadi bukti adanya peradaban maju di daerah ini ribuan tahun lalu. Ia memiliki keterkaitan erat dengan Situs Lemah Duhur Lanang, yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat daerah. 

Secara arkeologis, situs ini diyakini berasal dari periode Hindu-Buddha, dengan temuan seperti reruntuhan candi dan artefak yang menunjukkan aktivitas ritual dan perdagangan maritim. 

Nama "Lemah Duhur Wadon" (tanah tinggi perempuan) mungkin merujuk pada aspek mitologis atau geografis, yang menambah misteri situs ini. Penetapannya sebagai cagar budaya bertujuan untuk melindungi dari ancaman pembangunan dan erosi alam, sekaligus mendorong penelitian lebih lanjut.


Potensi situs ini sebagai destinasi wisata arkeologi sangat menjanjikan. Dengan pengembangan seperti jalur interpretasi, museum situs, dan tur guided, Karawang bisa menjadi tujuan bagi pecinta sejarah kuno. Ini juga berkontribusi pada pemahaman lebih dalam tentang sejarah pra-kolonial Jawa Barat, yang sering terlupakan di tengah fokus pada sejarah modern.

4. Hio-Lo Sian Djin Ku Po: Warisan Budaya Multietnis

Terakhir, benda cagar budaya Hio-Lo Sian Djin Ku Po terletak di Klenteng Sian Djin Ku Po, Tanjungpura. Benda ini adalah media dupa yang digunakan dalam ritual persembahyangan, dihiasi dengan ornamen rumit yang mencerminkan seni Tionghoa. 

Ia menjadi bukti sejarah berdirinya klenteng tersebut dan keberadaan komunitas etnis Tionghoa di Karawang sejak abad ke-19. 

Klenteng ini sendiri adalah pusat spiritual bagi umat Konghucu dan Buddha di daerah tersebut, dengan arsitektur khas yang memadukan elemen Cina dan lokal. 

Hio-Lo tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga sosial, karena merepresentasikan harmoni multikultural di Karawang. Penetapannya sebagai cagar budaya menekankan pentingnya melestarikan warisan etnis minoritas di Indonesia.

Dalam pengembangannya, klenteng bisa menjadi pusat festival budaya, seperti perayaan Imlek atau workshop seni tradisional. Ini tidak hanya melestarikan benda tersebut, tetapi juga mempromosikan toleransi dan keragaman budaya di masyarakat.

Kesimpulan: Menuju Karawang yang Berbudaya dan Berkelanjutan

Penetapan empat cagar budaya baru ini oleh Pemkab Karawang adalah bukti komitmen dalam pelestarian warisan. Dari Gedung Juang yang mewakili era kolonial, Tugu Kebulatan Tekad sebagai simbol kemerdekaan, Situs Lemah Duhur Wadon yang mengungkap peradaban kuno, hingga Hio-Lo Sian Djin Ku Po yang menunjukkan keragaman etnis, semuanya membentuk mosaik sejarah Karawang yang kaya. 

Upaya ini diharapkan melibatkan masyarakat secara aktif, melalui edukasi dan pariwisata, untuk memastikan warisan ini bertahan bagi generasi mendatang.

Dalam era globalisasi, menjaga cagar budaya bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Dengan sinergi antara pemangku kepentingan, Karawang bisa menjadi model pelestarian budaya di Indonesia, yang sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan. Mari kita dukung inisiatif ini agar sejarah tetap hidup dan menginspirasi.

⚠ Warning!! Aturan Komentar:
  • Sopan dan Menghargai — Komentar yang mengandung ujaran kebencian, diskriminasi, atau pelecehan akan dihapus.
  • Fokus pada Topik — Hindari spam atau komentar yang tidak relevan dengan konten.
  • Gunakan Bahasa yang Baik — Hindari kata-kata kasar atau tidak pantas.
  • Tidak Mengiklankan — Komentar yang mengandung promosi pribadi atau iklan akan dihapus.
  • Patuhi Hukum — Komentar yang melanggar hak cipta atau norma hukum akan ditindak tegas.
Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Karawang Tetapkan 4 Cagar Budaya Baru: Gedung Juang, Tugu Kebulatan Tekad, Situs Lemah Duhur Wadon, dan Hio-Lo Sian Djin Ku Po
  • Karawang Tetapkan 4 Cagar Budaya Baru: Gedung Juang, Tugu Kebulatan Tekad, Situs Lemah Duhur Wadon, dan Hio-Lo Sian Djin Ku Po
  • Karawang Tetapkan 4 Cagar Budaya Baru: Gedung Juang, Tugu Kebulatan Tekad, Situs Lemah Duhur Wadon, dan Hio-Lo Sian Djin Ku Po
  • Karawang Tetapkan 4 Cagar Budaya Baru: Gedung Juang, Tugu Kebulatan Tekad, Situs Lemah Duhur Wadon, dan Hio-Lo Sian Djin Ku Po
  • Karawang Tetapkan 4 Cagar Budaya Baru: Gedung Juang, Tugu Kebulatan Tekad, Situs Lemah Duhur Wadon, dan Hio-Lo Sian Djin Ku Po
  • Karawang Tetapkan 4 Cagar Budaya Baru: Gedung Juang, Tugu Kebulatan Tekad, Situs Lemah Duhur Wadon, dan Hio-Lo Sian Djin Ku Po
0%
Komentar 1 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link