Terbongkar! CIA Diam-Diam Pantau Nicolás Maduro Lewat Operasi Senyap di Venezuela Sejak Agustus
ElangUpdate | 4 Januari 2026 – Dunia geopolitik kembali diguncang dengan pengungkapan terbaru dari The New York Times (NYT) yang menyebutkan bahwa Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat telah mengerahkan agen-agennya secara rahasia ke Venezuela mulai bulan Agustus tahun lalu.
Tujuan utama operasi ini adalah memantau rutinitas harian dan pergerakan Presiden Nicolás Maduro, sebagai bagian dari strategi intelijen yang lebih luas yang akhirnya berujung pada penangkapan dramatis Maduro pada 3 Januari 2026.
Berita ini menjadi sorotan utama media internasional karena menandai eskalasi signifikan dalam kebijakan luar negeri AS di bawah Presiden Donald Trump.
Operasi penangkapan Maduro, yang melibatkan pasukan khusus Delta Force, didukung oleh intelijen mendalam yang dikumpulkan CIA selama berbulan-bulan. Ini bukan sekadar pemantauan biasa, melainkan upaya sistematis untuk membangun "pattern of life" atau pola kehidupan sehari-hari Maduro, termasuk tempat tidur, jadwal pertemuan, dan rute perjalanan rutinnya.
Latar Belakang Eskalasi Konflik AS-Venezuela
Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela telah memanas sejak lama, terutama sejak Maduro dituduh terlibat dalam kartel narkotika "Cartel de los Soles". Pada Maret 2020, Departemen Kehakiman AS mendakwa Maduro atas tuduhan narco-terrorism, konspirasi impor kokain, dan kepemilikan senjata.
Hadiah sebesar 15 juta dolar AS awalnya ditawarkan untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya, kemudian ditingkatkan menjadi 50 juta dolar pada Agustus 2025.
Di bawah pemerintahan Trump kedua, tekanan meningkat drastis. Mulai Agustus 2025, AS mengerahkan armada besar kapal perang, jet tempur, dan ribuan tentara ke Karibia.
Serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba dilakukan, menewaskan puluhan orang. Pada Oktober 2025, Trump secara terbuka mengonfirmasi otorisasi operasi rahasia CIA di Venezuela, dengan tujuan akhir menggulingkan Maduro.
Puncaknya terjadi pada akhir Desember 2025, ketika CIA melakukan serangan drone pertama di wilayah Venezuela, menargetkan dermaga yang digunakan geng Tren de Aragua untuk memuat narkoba. Serangan ini tidak menimbulkan korban jiwa, tapi menjadi sinyal kuat bahwa AS siap bertindak langsung di darat Venezuela.
Peran Kunci CIA dalam Operasi Penangkapan
Menurut laporan NYT yang diterbitkan pada 3 Januari 2026, CIA tidak hanya mengandalkan drone stealth untuk pemantauan konstan, tapi juga memiliki sumber internal di pemerintahan Venezuela.
Sumber ini memantau lokasi Maduro hingga detik-detik terakhir sebelum penangkapan. Selain itu, sekelompok petugas CIA telah beroperasi secara clandestin di Venezuela sejak Agustus 2025, mengumpulkan data intelijen tentang kebiasaan Maduro.
"CIA memiliki kelompok petugas di lapangan di Venezuela yang bekerja secara rahasia mulai Agustus, mengumpulkan informasi tentang 'pattern of life' dan pergerakan Maduro," tulis NYT mengutip sumber yang mengetahui operasi tersebut.
Operasi penangkapan sendiri dilakukan oleh Delta Force pada dini hari 3 Januari 2026. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap saat sedang tidur di kediaman mereka yang dijaga ketat.
Resistensi minimal, meski Maduro sempat mencoba mencapai ruang aman. Pasangan ini kemudian diterbangkan ke kapal perang USS Iwo Jima dan dibawa ke New York untuk menghadapi persidangan atas tuduhan narko-terorisme.
Trump menyebut operasi ini sebagai "Operation Absolute Resolve" dan menyatakan AS akan "mengelola" Venezuela sementara hingga transisi kekuasaan yang aman. Ini memicu kontroversi internasional, dengan sekutu AS seperti Prancis menyambut baik, sementara Kuba dan Iran mengutuk keras.
Dampak dan Reaksi Internasional
- Venezuela Internal: Wakil Presiden Delcy Rodríguez menyerukan ketenangan dan menegaskan Maduro tetap presiden sah. Demonstrasi pro-Maduro terjadi di Caracas, tapi situasi relatif tenang tanpa kehadiran militer AS yang terlihat.
- Reaksi Dunia: Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut "pembebasan rakyat Venezuela dari kediktatoran Maduro". Sementara itu, pemimpin oposisi María Corina Machado menyerukan kedaulatan rakyat dan instalasi Edmundo González sebagai presiden sah.
- Implikasi Hukum: Maduro akan diadili di Pengadilan Distrik Selatan New York. Jaksa Agung Pam Bondi menyatakan pasangan Maduro akan menghadapi "kemarahan penuh keadilan Amerika".
- Kontroversi: Banyak analis menyebut operasi ini sebagai pelanggaran hukum internasional, mirip intervensi AS di masa lalu. Namun, pemerintahan Trump membela dengan alasan perang melawan kartel narkoba.
Analisis: Apa Selanjutnya untuk Venezuela dan Hubungan AS-Amerika Latin?
Penangkapan Maduro membuka babak baru di Amerika Latin. Venezuela kaya minyak, tapi dilanda krisis ekonomi parah akibat sanksi AS dan mismanajemen.
Dengan Maduro di luar negeri, transisi kekuasaan menjadi pertanyaan besar.
Apakah AS akan mendukung pemerintahan sementara oposisi, atau ini akan memicu perlawanan bersenjata dari pendukung Chavismo?
Secara lebih luas, tindakan ini bisa menjadi preseden bagi kebijakan Trump terhadap negara-negara lain yang dianggap musuh, seperti Iran atau Kuba. Rubio, Menteri Luar Negeri AS, bahkan mengisyaratkan Kuba harus "waspada".
Ini menimbulkan kekhawatiran akan "perang selamanya" di wilayah tersebut.
Namun, bagi banyak pengungsi Venezuela di AS, ini adalah kemenangan. Jutaan warga Venezuela telah melarikan diri dari hiperinflasi dan kekurangan pangan di era Maduro. Penangkapan ini bisa membuka jalan bagi pemulihan ekonomi dengan bantuan internasional.
Satu hal pasti: Operasi CIA sejak Agustus 2025 telah mengubah peta politik Amerika Selatan secara permanen. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Washington dan Caracas.
Sumber: The New York Times, Reuters, BBC, CNN, dan laporan media terverifikasi lainnya. Artikel ini disusun secara independen berdasarkan fakta publik untuk menghindari plagiarisme.

Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.