Situasi Panas! Armada Laut China Perkuat Selat Taiwan, Kapal Induk Fujian Jadi Sorotan
ElangUpdate | 4 Januari 2026 – Selat Taiwan kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA Navy) mengerahkan gugus tugas kapal perang yang kuat, termasuk kapal induk tercanggih mereka, CNS Fujian (CV-18).
Pergerakan ini, yang terjadi pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, telah memicu kekhawatiran internasional atas potensi eskalasi ketegangan di kawasan Indo-Pasifik.
Meskipun Beijing menyatakan bahwa aktivitas ini merupakan bagian dari latihan rutin dan pemeliharaan, banyak pengamat melihatnya sebagai demonstrasi kekuatan militer yang ditujukan untuk menekan Taiwan dan memperingatkan intervensi eksternal.
Latar Belakang Pergerakan Kapal Induk Fujian
Kapal induk Fujian, yang resmi commissioning pada November 2025, merupakan pencapaian terbesar Angkatan Laut Tiongkok hingga saat ini.
Dengan bobot lebih dari 80.000 ton, Fujian adalah kapal induk pertama Tiongkok yang dilengkapi sistem peluncuran elektromagnetik (EMALS), mirip dengan yang digunakan pada kapal induk kelas Gerald R. Ford milik Amerika Serikat.
Teknologi ini memungkinkan peluncuran pesawat tempur yang lebih berat, seperti J-35 stealth fighter dan J-15T, dengan muatan senjata dan bahan bakar yang lebih besar dibandingkan kapal induk sebelumnya seperti Liaoning dan Shandong yang menggunakan sistem ski-jump.
Pada 16 Desember 2025, Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa Fujian melintasi Selat Taiwan untuk pertama kalinya sejak commissioning.
Kapal ini berangkat dari pangkalan Yulin di Pulau Hainan dan menuju utara, kemungkinan kembali ke galangan kapal Jiangnan di Shanghai untuk pemeliharaan rutin.
Meskipun tidak ada pesawat tempur di dek penerbangan saat transit, kehadiran Fujian yang mungkin didampingi kapal pengawal seperti destroyer Type 055 langsung memicu respons militer dari Taiwan.
Pasukan Taiwan memantau secara ketat dan mengerahkan aset intelijen, pengawasan, serta pengintaian (ISR) untuk merespons.
Pergerakan ini terjadi di tengah latihan militer besar-besaran Tiongkok bernama "Justice Mission 2025" yang berlangsung akhir Desember 2025.
Latihan tersebut mensimulasikan blokade total terhadap Taiwan, melibatkan ratusan sorti pesawat tempur, kapal perang, dan tembakan roket jarak jauh dari provinsi Fujian.
Meskipun Fujian tidak secara langsung terlibat dalam latihan blokade tersebut, transitnya melalui Selat Taiwan dianggap sebagai bagian dari strategi lebih luas untuk menunjukkan dominasi maritim Beijing di perairan sensitif ini.
Dampak terhadap Ketegangan Regional
Selat Taiwan, yang lebarnya hanya sekitar 130-180 km di bagian tersempit, merupakan jalur perairan internasional yang strategis.
Tiongkok mengklaim seluruh selat sebagai wilayah kedaulatannya, sementara Taiwan dan Amerika Serikat menganggapnya sebagai perairan internasional yang bebas dilayari.
Transit kapal induk seperti Fujian sering kali dilihat sebagai "grey zone tactics" aksi militer yang tidak sampai pada perang terbuka tapi cukup untuk mengintimidasi.
Respons internasional pun bermunculan. Amerika Serikat menyatakan bahwa aktivitas militer Tiongkok "meningkatkan ketegangan secara tidak perlu" dan mendesak Beijing untuk menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan.
Negara-negara sekutu seperti Jepang, Australia, dan Uni Eropa juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Jepang, yang memiliki sengketa wilayah dengan Tiongkok di Kepulauan Senkaku/Diaoyu, meningkatkan patroli di Laut China Timur setelah mendeteksi kapal pengawal Fujian.
Dari sisi Taiwan, Menteri Pertahanan Wellington Koo menegaskan bahwa transit Fujian tidak memiliki "niat militer langsung" berdasarkan pengamatan saat itu, tapi tetap dianggap sebagai provokasi.
Taiwan merespons dengan mengerahkan kapal perang, pesawat tempur, dan sistem rudal pantai. Aktivitas ini juga memengaruhi lalu lintas sipil, dengan nelayan lokal diperingatkan untuk menghindari zona latihan Tiongkok.
Analisis Pakar: Apa Arti Gugus Tugas Ini bagi Masa Depan?
Pakar militer internasional menilai bahwa pengerahan gugus tugas dengan Fujian sebagai inti menandai era baru bagi Angkatan Laut Tiongkok.
Dengan tiga kapal induk operasional (Liaoning, Shandong, dan Fujian), Beijing kini mampu melakukan operasi dual-carrier atau bahkan triple-carrier di masa depan.
Ini meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan jauh dari daratan utama, termasuk di Pasifik Barat dan Laut China Selatan.
- Kemampuan Tempur Lebih Tinggi: EMALS pada Fujian memungkinkan sortie rate lebih tinggi dan peluncuran pesawat stealth, membuatnya lebih unggul dibandingkan dua kapal induk sebelumnya.
- Sinyal Politik: Transit melalui Selat Taiwan adalah pesan jelas kepada Taiwan bahwa reunifikasi – dengan paksa jika perlu – tetap menjadi prioritas Beijing.
- Tantangan bagi AS: Amerika Serikat, yang memiliki komitmen pertahanan terhadap Taiwan melalui Taiwan Relations Act, kini menghadapi kompetitor yang semakin setara di domain maritim.
- Prospek 2026: Analis memperkirakan Fujian akan mencapai kemampuan operasional penuh pada 2026, diikuti potensi commissioning kapal induk keempat yang ber tenaga nuklir.
Selain itu, latihan seperti Justice Mission 2025 menunjukkan integrasi lebih baik antara angkatan laut, udara, roket, dan coast guard Tiongkok. Penggunaan roket jarak jauh untuk mensimulasikan serangan pelabuhan dan pengerahan kapal amfibi mengindikasikan persiapan untuk skenario invasi atau blokade pulau.
Reaksi Masyarakat dan Prospek Damai
Di media sosial dan forum internasional, pergerakan Fujian memicu diskusi panas. Banyak warganet di Tiongkok memuji kemajuan militer negaranya sebagai simbol kebangkitan nasional.
Sebaliknya, di Taiwan dan komunitas diaspora, aksi ini dilihat sebagai ancaman eksistensial yang semakin nyata.
Meskipun ketegangan meningkat, para analis optimis bahwa perang terbuka masih bisa dihindari melalui diplomasi.
Amerika Serikat terus melakukan freedom of navigation operations (FONOPs) di Selat Taiwan untuk menegaskan status internasionalnya. Dialog lintas selat, meski terhenti, tetap menjadi harapan untuk meredakan situasi.
Namun, dengan ekspansi militer Tiongkok yang pesat termasuk rencana enam kapal induk tambahan hingga 2035 kawasan Indo-Pasifik diprediksi akan tetap volatile dalam beberapa tahun mendatang.
Pergerakan gugus tugas Fujian ini bukan hanya berita militer biasa, melainkan indikator pergeseran keseimbangan kekuatan global yang sedang berlangsung.
Pengiriman gugus tugas kuat termasuk kapal induk Fujian ke Selat Taiwan merupakan langkah strategis Tiongkok untuk memperkuat klaimnya atas Taiwan dan memperlihatkan kemampuan blue-water navy-nya.
Meskipun Beijing menyebutnya sebagai aktivitas rutin, dampaknya terhadap stabilitas regional sangat signifikan.
Dunia kini menunggu apakah 2026 akan membawa de-eskalasi atau justru peningkatan konfrontasi lebih lanjut.

Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.