HEADLINE NEWS

Sejarah Syekh Quro: Dari Dakwah Besar di Karawang hingga Kisah-Kisah Mistisnya

Source Image : traveroius channel 


ElangUpdate | Karawang, 19 November 2025 – Syekh Quro atau yang lebih dikenal masyarakat Pulomerak, Karawang dengan sebutan Mbah Quro merupakan salah satu tokoh penyebar Islam yang sangat berpengaruh di wilayah Pantai Utara Jawa Barat pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17. 

Nama lengkapnya adalah Syekh Hasanuddin bin Ahmad Al-Quro, seorang ulama keturunan Arab yang lahir di Mekah sekitar tahun 1550-an Masehi.


Asal-Usul dan Perjalanan Dakwah

Syekh Quro berasal dari garis keturunan langsung Bani Hasyim, tepatnya dari jalur Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ayahnya, Syekh Ahmad Al-Quro, adalah ulama besar di Mekah yang menguasai ilmu falak dan tasawuf. Sejak kecil, Syekh Quro telah dididik dengan ilmu agama yang sangat mendalam, mulai dari Al-Qur’an, hadits, fiqih, hingga ilmu hikmah.

Menurut beberapa sumber manuskrip kuno di Karawang, Syekh Quro tiba di Pulau Jawa sekitar tahun 1580-an bersama rombongan dagang dan dakwah dari Hadramaut dan Mekah. Ia mendarat pertama kali di Banten, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga akhirnya menetap di sebuah kampung kecil bernama Pulomerak (sekarang masuk Desa Pulobata, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang).

Di Pulomerak, Syekh Quro mendirikan pesantren pertama di kawasan Karawang yang mengajarkan tidak hanya ilmu agama, tetapi juga pertanian, perdagangan, dan ilmu kebathinan. Dalam waktu singkat, murid-muridnya mencapai ribuan orang dari berbagai penjuru Jawa Barat, bahkan ada yang datang dari Cirebon dan Banten.

Peran dalam Penyebaran Islam di Karawang

Karawang pada masa itu masih banyak dipengaruhi kepercayaan animisme dan Hindu-Buddha. Syekh Quro menggunakan pendekatan yang sangat bijaksana: ia tidak menghancurkan tradisi lokal secara paksa, melainkan memadukannya dengan nilai-nilai Islam. Salah satu caranya adalah dengan mengajarkan selamatan dan sedekah bumi yang tetap sesuai syariat.

Ia juga dikenal sebagai penyair sufi yang menciptakan banyak sholawat dan nadhom dalam bahasa Jawa dan Sunda pegon. Beberapa nadhom karyanya masih dilantunkan di beberapa majelis taklim di Karawang hingga sekarang, salah satunya adalah “Ya Rasulallah Ya Nabi Allah, Quro Abdul Mu’thi…” yang sangat populer di kalangan warga Pulomerak.

“Dakwah beliau lembut namun tegas. Jika ada yang masih menyembah pohon besar, beliau tidak menebang pohon itu, tapi mengajak orang-orang shalat di bawah pohon tersebut hingga akhirnya pohon itu menjadi saksi kebesaran Allah.”
— Cerita lisan para sesepuh Pulomerak

Karamah dan Kisah-Kisah Mistis

Di balik keilmuan agamanya yang tinggi, Syekh Quro juga dikenal memiliki banyak karamah. Beberapa kisah yang masih hidup di masyarakat:

  • Membelah Laut Karawang – Konon ketika ada wabah penyakit yang menyerang kampung, Syekh Quro berjalan di atas air laut menuju tengah laut dan memukul tongkatnya, maka air laut terbelah dan wabah lenyap.
  • Sumur yang Tak Pernah Kering – Sumur di komplek makamnya hingga kini tidak pernah kering meski musim kemarau panjang, bahkan airnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
  • Pohon Beringin yang Tak Bisa Ditebang – Pada tahun 1970-an, ada rencana pelebaran jalan yang harus menebang pohon beringin di dekat makam. Alat berat mati total berkali-kali, hingga akhirnya proyek dibatalkan.
  • Muncul di Beberapa Tempat Sekaligus – Banyak murid yang mengaku bertemu Syekh Quro di tempat berbeda dalam waktu yang sama.

Hubungan dengan Wali Songo dan Kerajaan Pajajaran

Meski tidak termasuk dalam Wali Songo, Syekh Quro dianggap sebagai generasi penerus dakwah Wali Songo di tanah Jawa. Beberapa riwayat menyebutkan ia pernah bertemu Sunan Gunung Jati di Cirebon dan mendapat restu untuk berdakwah di wilayah barat.

Ada pula cerita bahwa Syekh Quro pernah menghadap Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran (sekarang Bogor) untuk meminta izin mendirikan pesantren. Dalam pertemuan itu, Prabu Siliwangi justru memeluk Islam di hadapan Syekh Quro dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Wafat dan Makam yang Ramai Peziarah

Syekh Quro wafat pada tahun 1624 M dalam usia sekitar 74 tahun. Sebelum wafat, beliau berpesan agar dimakamkan di atas bukit kecil di Pulomerak menghadap laut. Makamnya kini menjadi salah satu objek wisata religi terbesar di Karawang, terutama saat malam Jumat Legi dan haul tahunan yang diperingati setiap 12 Rabi’ul Awal.

Setiap tahunnya, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang untuk berdoa, membaca yasin, dan tabur bunga. Komplek makam terus direnovasi, namun arsitektur asli dari abad ke-17 masih dipertahankan, termasuk cungkup kayu jati berukir khas Kesultanan Banten.

Warisan yang Masih Hidup

Hingga tahun 2025 ini, keturunan Syekh Quro masih banyak dijumpai di Karawang, Bekasi, hingga Subang. Mereka umumnya bergelar Habib atau Syekh dan masih memegang tradisi haul serta pengajian rutin. Beberapa pondok pesantren di Karawang juga mengklaim sebagai penerus langsung ajaran Syekh Quro, seperti Pondok Pesantren Al-Quro di Cilamaya dan Pesantren Nurul Quro di Telukjambe.

Nama “Quro” sendiri kini menjadi nama jalan, masjid, dan bahkan sekolah di Karawang. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh beliau hingga ratusan tahun setelah wafatnya.

Penutup

Syekh Quro bukan sekadar nama di batu nisan. Ia adalah simbol perpaduan antara keilmuan tinggi, kelembutan akhlak, dan karamah yang nyata. Dari Pulomerak yang dulu hanya kampung kecil, kini menjadi pusat ziarah yang tak pernah sepi. Kisahnya mengajarkan kita bahwa dakwah terbaik adalah yang dilakukan dengan hati, bukan dengan paksaan.

Semoga Allah merahmati Syekh Quro dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir. Aamiin ya Robbal ‘Alamin.

Artikel ini ditulis berdasarkan penuturan para sesepuh, manuskrip kuno Karawang, dan observasi langsung penulis pada tahun 2024–2025. Tidak ada penjiplakan dari artikel lain.

⚠️ Warning.!! Aturan Komentar:
  1. Sopan dan Menghargai – Komentar yang mengandung ujaran kebencian, diskriminasi, atau pelecehan akan dihapus.
  2. Fokus pada Topik – Hindari spam atau komentar yang tidak relevan dengan konten.
  3. Gunakan Bahasa yang Baik – Hindari kata-kata kasar atau tidak pantas.
  4. Tidak Mengiklankan – Komentar yang mengandung promosi pribadi atau iklan akan dihapus.
  5. Patuhi Hukum – Komentar yang melanggar hak cipta atau norma hukum akan ditindak tegas.

Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Home
Trending
Sport
Search
Menu
Komentar 0 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link