Mike Maignan: Kiper Berbakat AC Milan yang Bertekad Gabung Chelsea, Tapi Masih Terbuka untuk Bayern Munich dan Juventus
ElangUpdate | Jakarta, 8 November 2025 – Dalam dunia sepak bola yang penuh dengan drama transfer dan persaingan ketat, nama Mike Maignan kembali menjadi sorotan utama.
Kiper utama AC Milan ini, yang dikenal dengan refleks kilat dan kepemimpinannya di lini belakang, kini berada di persimpangan jalan karirnya.
Kontraknya yang akan berakhir pada Juni 2026 membuatnya menjadi salah satu agen bebas paling menarik di musim panas mendatang.
Menurut laporan terbaru dari Gazzetta dello Sport, Maignan "bertekad" untuk pindah ke Chelsea, meskipun ia tetap membuka pintu lebar untuk tawaran dari Bayern Munich dan Juventus.
Berita ini bukan hanya sekadar rumor musim dingin; ini adalah cerita tentang ambisi seorang atlet yang ingin menaklukkan panggung Premier League, sambil tetap menghormati akarnya di sepak bola Eropa.
Maignan, yang lahir di Guyana Prancis pada 3 Juli 1995, telah menjelma menjadi salah satu kiper terbaik di Serie A sejak bergabung dengan AC Milan pada 2021.
Namun, di usia 30 tahun, ia merasa saatnya untuk tantangan baru. Chelsea, dengan skuad muda dan ambisius di bawah Enzo Maresca, tampak sebagai destinasi ideal.
Tapi, mengapa Maignan begitu yakin dengan The Blues? Dan apa yang membuat Bayern dan Juventus tetap menjadi opsi menarik? Mari kita telusuri lebih dalam melalui artikel ini.
Latar Belakang Karir: Dari Cayenne ke San Siro
Perjalanan Maignan dimulai di kota kecil Cayenne, Guyana Prancis, di mana ia pertama kali menyentuh bola sepak.
Pada usia 15 tahun, ia pindah ke Paris untuk bergabung dengan akademi Paris Saint-Germain (PSG), tapi nasib membawanya ke klub lain. Setelah sempat bermain untuk US Torcy dan AS Bondy, Maignan akhirnya menembus tim utama Lille OSC pada 2015.
Di sana, ia menjadi pilar utama, memenangkan gelar Ligue 1 pada musim 2020-2021 – prestasi langka bagi Lille yang biasanya bersaing di papan tengah.
Transfernya ke AC Milan senilai €15 juta pada Juli 2021 adalah titik balik. Maignan langsung menjadi kapten lini belakang Rossoneri, menggantikan Gianluigi Donnarumma yang pindah ke PSG.
Di bawah pelatih Stefano Pioli, ia membantu Milan merebut Scudetto pada 2021-2022, gelar Serie A pertama setelah 11 tahun puasa.
Statistiknya mencengangkan: rata-rata 3,5 penyelamatan per pertandingan, tingkat clean sheet 45%, dan kemampuan distribusi bola yang membuatnya cocok untuk gaya build-up play modern.
Selain itu, Maignan adalah kiper yang vokal dan karismatik.
Ia sering memimpin rekan-rekannya di lapangan, bahkan di luar kotak penalti. Prestasi internasionalnya juga tak kalah: sebagai kiper utama Prancis, ia memenangkan Nations League 2021 dan tampil solid di Piala Dunia 2022.
Namun, cedera dan ketidakpastian kontrak kini mengancam posisinya di Milan. Klub Italia itu telah berulang kali menunda perpanjangan kontrak, membuat Maignan merasa kurang dihargai.
Situasi Kontrak: Mengapa Musim Panas 2026 Menjadi Titik Kritis?
Kontrak Maignan dengan AC Milan berakhir pada 30 Juni 2026, setelah klub secara otomatis memperpanjangnya setahun pada 2024 untuk menghindari kehilangan gratis.
Namun, negosiasi perpanjangan mandek sejak awal 2025. Milan menawarkan gaji €4,5 juta per tahun plus bonus, tapi Maignan menuntut €6 juta angka yang mencerminkan statusnya sebagai kapten dan aset berharga.
Sementara itu, agennya telah mengindikasikan keinginan untuk tantangan baru, terutama di liga yang lebih kompetitif seperti Premier League.
Dari Januari 2026, Maignan bebas menandatangani pre-kontrak dengan klub asing, yang membuat persaingan semakin panas.
AC Milan, yang saat ini berada di peringkat tiga Serie A dengan selisih dua poin dari Napoli, tak ingin kehilangan ikonnya tanpa imbalan.
Tapi, dengan performa Maignan yang tetap prima – lima clean sheet dalam tujuh laga musim ini – klub-klub top Eropa tak ragu mengintainya.
Bayangkan ini: seorang kiper berusia 30 tahun, di puncak performa, dengan pengalaman juara di tiga liga berbeda (Ligue 1, Serie A, dan internasional).
Risikonya bagi Milan tinggi; jika Maignan pergi gratis, itu akan menjadi pukulan finansial setelah investasi besar di lini belakang musim panas ini.
Rumor Transfer: Chelsea sebagai Prioritas Utama
Chelsea bukan nama baru dalam cerita Maignan. Sejak musim panas 2024, The Blues telah melakukan pendekatan serius. Saat itu, mereka menawar €15 juta, tapi Milan menuntut €21 juta terlalu mahal untuk kiper dengan satu tahun tersisa.
Meski gagal, kesepakatan personal dengan Maignan sudah tercapai: gaji €7 juta per tahun plus bonus, dengan durasi kontrak empat tahun.
Kini, dengan status free agent, Chelsea berada di posisi pole – seperti yang dilaporkan Gazzetta dello Sport pada November 2025.
Mengapa Chelsea? Pertama, lini gawang mereka butuh upgrade. Robert Sanchez menunjukkan kemajuan, tapi inkonsistensi dan cedera membuat Maresca mencari opsi elit.
Maignan, dengan kemampuan footwork-nya, cocok untuk gaya possession-based Chelsea. Kedua, Stamford Bridge menawarkan panggung global: Premier League, Liga Champions, dan proyek jangka panjang dengan pemilik Todd Boehly yang haus gelar. Maignan disebut "bertekad" karena ia melihat Chelsea sebagai langkah evolusi karirnya, dari kiper solid menjadi legenda.
Tapi, transfer ini tak luput dari tantangan. Chelsea harus bersaing dengan klub-klub kaya, dan Maignan mungkin menunggu hingga akhir musim untuk melihat performa Milan di Eropa.
Jika Rossoneri tersingkir dini dari Champions League, tekanan untuk pergi bisa meningkat.
Pesaing Kuat: Bayern Munich dan Juventus di Ambang Persaingan
Sementara Chelsea memimpin, Bayern Munich muncul sebagai ancaman serius. Die Roten mencari pengganti jangka panjang Manuel Neuer, yang sudah 39 tahun. Maignan, dengan usia ideal dan pengalaman Bundesliga-style (dari Lille), dianggap cocok.
Laporan Oktober 2025 menyebut Bayern siap tawarkan €8 juta gaji, plus bonus berbasis trofi. Vincent Kompany, pelatih Bayern, dikabarkan mengagumi distribusi Maignan yang mirip Ederson.
Juventus, sebagai rival domestik, tak mau kalah. Bianconeri melihat Maignan sebagai upgrade dari Michele Di Gregorio, kiper yang menarik minat Premier League.
Dengan kontrak Maignan habis, Juve bisa merekrut gratis strategi cerdas di era FFP.
Pelatih Luciano Spalletti ingin kiper berjiwa pemimpin untuk membangun ulang skuad juara. Namun, Maignan lebih condong ke luar Italia, meski tawaran tetap terbuka.
Persaingan ini menciptakan dinamika menarik: Chelsea dengan daya tarik finansial, Bayern dengan tradisi dominasi, dan Juventus dengan kenyamanan budaya Italia. Maignan, yang masih terbuka terhadap opsi, mungkin memutuskan berdasarkan proyek olahraga daripada uang semata.
Dampak Potensial: Bagi Klub, Pemain, dan Liga
Jika Maignan gabung Chelsea, itu akan merevolusi lini belakang The Blues. Sanchez bisa dipinjamkan, dan Maignan akan bersaing dengan Filip Jorgensen untuk posisi utama.
Bagi Milan, kehilangannya berarti mencari pengganti seperti Marco Carnesecchi atau bahkan promosi dari akademi – biaya yang tak murah.
Di sisi lain, Bayern atau Juventus mendapat kiper top gratis, memperkuat dominasi mereka di liga masing-masing.
Secara lebih luas, transfer ini menyoroti tren kiper modern: tak lagi sekadar penyelamat, tapi playmaker. Maignan, dengan 85% akurasi umpan panjang, mewakili evolusi itu.
Bagi fans, ini adalah cerita romantis – dari anak pinggiran Paris ke bintang Eropa.
Kesimpulan: Menuju Babak Baru yang Menjanjikan
Mike Maignan bukan hanya kiper; ia adalah simbol ketangguhan dan ambisi. Dengan tekadnya ke Chelsea, tapi fleksibilitas terhadap Bayern dan Juventus, musim panas 2026 akan menjadi panggung dramatis.
Apakah ia akan mengenakan sarung tangan biru di Stamford Bridge, merah-putih di Allianz Arena, atau hitam-putih di Turin? Hanya waktu yang tahu. Yang pasti, karirnya telah menginspirasi jutaan, dan langkah selanjutnya pasti epik.
Sumber utama: Gazzetta dello Sport dan laporan transfer terkini. Pantau terus untuk update!

Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.