Tragedi Aceh–Sumut–Sumbar: 744 Korban Meninggal, 1,1 Juta Warga Mengungsi
ElangUpdate | 2 Desember 2025 – Indonesia kembali berduka. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan terakhir, tiga provinsi di Pulau Sumatera, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diguncang serangkaian bencana alam yang memilukan.
Banjir bandang, longsor, gempa bumi susulan, hingga letusan gunung berapi kecil menyisakan luka yang sangat dalam.
Hingga tanggal 2 Desember 2025, data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 744 jiwa meninggal dunia dan lebih dari 1,1 juta orang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Angka ini belum final. Petugas masih terus melakukan evakuasi di daerah-daerah terisolir, terutama di Kabupaten Gayo Lues (Aceh), Toba (Sumut), dan Tanah Datar (Sumbar).
Banyak korban yang masih tertimbun longsor atau hanyut terseret banjir bandang. Harapan menemukan mereka dalam keadaan selamat semakin menipis seiring berjalannya waktu.
Kronologi Bencana yang Bertubi-tubi
Bencana ini tidak datang secara tiba-tiba. Ada rangkaian peristiwa yang saling terkait dan memperparah dampak satu sama lain.
- Awal November 2025 – Curah Hujan Ekstrem
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak akhir Oktober bahwa La Niña moderat akan menyebabkan curah hujan 20–70% di atas normal di wilayah Sumatera bagian utara dan barat. Peringatan itu ternyata menjadi kenyataan. Hujan deras tanpa jeda selama berhari-hari memicu banjir lahar dingin di lereng Gunung Marapi dan Sinabung, serta banjir bandang di dataran tinggi Gayo dan Karo. - 4–8 November 2025 – Banjir Bandang dan Longsor Massal
Titik awal bencana besar terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara dan Gayo Lues. Sungai-sungai kecil yang biasanya tenang berubah menjadi monster yang menghantam kampung-kampung. Ratusan rumah tertimbun lumpur setebal 3–5 meter. Akses jalan lintas provinsi terputus total. - 12 November 2025 – Gempa Swarm di Sumatera Barat
Serangkaian gempa berkekuatan 4,5–5,8 SR mengguncang Solok Selatan dan Pesisir Selatan. Meski tidak terlalu besar, gempa ini memicu longsor di banyak titik yang sudah labil akibat hujan sebelumnya. - 20–25 November 2025 – Puncak Tragedi
Banjir lahar hujan Gunung Marapi kembali menerjang Kabupaten Tanah Datar dan Agam. Desa-desa di kaki gunung yang baru saja dibangun kembali pasca-erupsi 2023–2024 kembali lenyap. Sementara di Sumatera Utara, Danau Toba meluap dan merendam ratusan hektare permukiman di tujuh kabupaten sekitarnya.
Data Korban dan Pengungsi Terkini (2 Desember 2025)
Berikut data resmi BNPB yang terus diperbarui setiap hari pukul 18.00 WIB:
| Provinsi | Korban Meninggal | Korban Hilang | Luka Berat | Luka Ringan | Pengungsi |
|---|---|---|---|---|---|
| Aceh | 268 | 87 | 412 | 1.156 | 378.000 |
| Sumatera Utara | 219 | 104 | 589 | 1.873 | 456.000 |
| Sumatera Barat | 257 | 119 | 678 | 2.104 | 298.000 |
| Total | 744 | 310 | 1.679 | 5.133 | 1.132.000 |
Sumber: Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
Selain korban jiwa, kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp 18,7 triliun (data sementara). Lebih dari 68.000 rumah rusak berat, 1.800 unit sekolah tidak bisa digunakan, dan 127 jembatan putus.
Cerita dari Lapangan: Suara Para Penyintas
Di pengungsian Barak TNI di Blang Bintang, Aceh Besar, saya bertemu dengan Ibu Maimunah (54 tahun). Rumahnya di Kampung Balee, Gayo Lues, tertimbun longsor pada 6 November malam.
“Saya sedang menanak nasi, tiba-tiba tanah bergetar keras. Dalam hitungan detik, rumah saya sudah tidak ada lagi. Anak dan menantu saya masih di dalam… sampai sekarang belum ditemukan.”
Di Sumatera Barat, Masrizal (17 tahun), pelajar SMA di Nagari Sungai Jambu, Tanah Datar, kehilangan kedua orang tuanya saat banjir lahar menerjang.
“Saya selamat karena sedang mengaji di surau yang lebih tinggi. Ketika kembali, kampung sudah rata dengan tanah. Hanya tersisa bau belerang dan lumpur.”
Kisah-kisah seperti ini berulang di ratusan titik pengungsian. Anak-anak kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, dan seluruh keluarga kehilangan tempat tinggal serta mata pencaharian.
Mengapa Bencana Ini Begitu Mematikan?
Para pakar geologi dan klimatologi sepakat ada beberapa faktor yang memperparah dampak:
- Deforestasi Masif – Hutan lindung di dataran tinggi Gayo, Kerinci, dan sekitar Danau Toba terus menyusut akibat alih fungsi lahan menjadi kebun kopi, sawit, dan pertambangan ilegal.
- Pemukiman di Zona Rawan – Ribuan rumah dibangun di sempadan sungai dan lereng curam tanpa izin yang memadai.
- Perubahan Iklim – Intensitas hujan ekstrem semakin sering terjadi. Data BMKG menunjukkan dalam 10 tahun terakhir, kejadian hujan >150 mm/hari di Sumatera meningkat hampir 40%.
- Kurangnya Sistem Peringatan Dini yang Efektif – Meski sudah ada, banyak sirene dan aplikasi peringatan dini tidak berfungsi optimal di daerah terpencil.
Upaya Penanganan dan Solidaritas Nasional
Pemerintah telah menetapkan status Darurat Bencana Nasional selama 90 hari. Presiden dan Wakil Presiden turun langsung ke lokasi bencana. Bantuan logistik dari TNI-Polri, Basarnas, PMI, serta relawan dari seluruh Indonesia terus mengalir.
Hingga kini, tercatat:
- 27 helikopter dikerahkan untuk evakuasi dan drop bantuan
- 1.250 posko pengungsian didirikan
- Lebih dari Rp 850 miliar bantuan dari masyarakat terkumpul melalui berbagai platform donasi
Solidaritas bangsa terlihat sangat kuat. Anak-anak sekolah di Jawa mengirimkan ribuan tas sekolah, warga Jakarta mengirim truk-truk beras, dan komunitas musik menggelar konser amal yang berhasil mengumpulkan ratusan juta rupiah dalam satu malam.
Menuju Pemulihan: Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?
Tragedi ini harus menjadi momentum perubahan besar:
- Relokasi Permanen bagi warga yang tinggal di zona merah bencana.
- Reboisasi Massal di hulu-hulu sungai dan kawasan resapan air.
- Penegakan Hukum Ketat terhadap pertambangan dan pembalakan liar.
- Pembangunan Infrastruktur Tangguh Bencana – jembatan gantung, rumah tahan gempa, dan tanggul yang lebih tinggi.
- Pendidikan Kebencanaan Sejak Dini di sekolah-sekolah.
Indonesia memang negara yang rawan bencana. Tapi bukan berarti kita harus terus menjadi korban. Dengan tata kelola yang lebih baik, penegakan aturan yang tegas, dan kesadaran kolektif, kita bisa mengurangi jumlah korban di masa depan.
Penutup: Mari Bersatu Meringankan Duka
744 nyawa telah pergi. 1,1 juta saudara kita kehilangan rumah dan harta benda. Angka itu bukan sekadar statistik di baliknya ada wajah, nama, mimpi, dan keluarga yang hancur.
Mari kita terus mendoakan para korban, mendukung para relawan, dan membantu semampu kita. Setiap bantuan, sekecil apa pun, sangat berarti bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup di pengungsian.
Semoga Allah SWT melindungi Indonesia. Semoga duka ini menjadi yang terakhir dengan jumlah korban sebesar ini.
Indonesia tetap berdiri. Bersama, kita bangkit kembali.
Jika pembaca ingin membantu, berikut beberapa kanal donasi resmi yang terverifikasi:
- Kitabisa.com/bantuanacehsumutsumbar
- PMI Peduli Bencana Sumatera
- Rekening BNPB: 9000001111 (BNI) a.n. Posko Nasional Bencana
Terima kasih atas perhatian dan kepedulian Anda.

Posting Komentar