Hari di Bumi Disebut Bisa Bertambah Panjang, Ilmuwan Jelaskan Penyebab Ilmiahnya



ElangUPDATE - Bayangkan saja, Anda bangun pagi seperti biasa, tapi entah kenapa rasanya hari ini berjalan lebih lambat dari kemarin. Kopi masih panas lebih lama, lalu lintas Jakarta terasa lebih macet, dan matahari seolah enggan cepat terbenam. Ternyata, ini bukan sekadar perasaan. 

Para ilmuwan baru saja mengonfirmasi: satu hari di Bumi, termasuk di Indonesia, memang sedang memanjang. 

Bukan berjam-jam, tapi cukup untuk mengguncang pemahaman kita tentang planet ini. Dan yang lebih mengejutkan, mereka menyebut ini sebagai salah satu tanda nyata bahwa perubahan besar sedang terjadi di muka Bumi.

Berita ini bukanlah ramalan mistis atau cerita horor. Ini hasil penelitian serius yang diterbitkan di jurnal ilmiah bergengsi, Journal of Geophysical Research: Solid Earth. Tim peneliti dari University of Vienna dan ETH Zurich di Swiss mengungkap fakta yang membuat dunia sains bergetar. 

Rotasi Bumi yang selama ini kita anggap stabil ternyata melambat lebih cepat dari yang pernah terjadi dalam 3,6 juta tahun terakhir. 

Penyebabnya? Perubahan iklim yang dipicu manusia, terutama pencairan es di kutub yang mengubah distribusi massa planet kita.

Rotasi Bumi yang Tak Lagi Sama

Selama miliaran tahun, Bumi berputar seperti bola yang stabil, memberi kita siklus siang dan malam yang teratur. Satu putaran penuh idealnya 24 jam. 

Tapi kenyataannya, tidak pernah persis 24 jam. Ada faktor alami seperti tarikan gravitasi Bulan yang perlahan memperlambat putaran kita. 

Biasanya, hari memanjang hanya sekitar 2 milidetik per abad karena efek pasang surut laut. Itu perubahan kecil sekali, hampir tak terasa.

Namun, sejak abad ke-21, sesuatu yang berbeda terjadi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa laju pemanjangan hari kini mencapai 1,33 milidetik per abad – angka yang belum pernah tercatat sejak akhir zaman Pliosen, sekitar 3,6 juta tahun lalu. 

Mostafa Kiani Shahvandi, penulis utama studi dari University of Vienna, menjelaskan dengan analogi yang mudah dicerna: "Bayangkan seorang pemain seluncur es yang berputar. 

Saat dia merentangkan tangan, putarannya melambat. Begitu juga Bumi saat massa air dari es yang mencair menyebar ke lautan."

Air yang dulu membeku di Greenland dan Antartika kini meleleh dan mengalir ke samudra. Permukaan laut naik, massa planet bergeser dari kutub ke arah ekuator, termasuk wilayah Indonesia yang berada di garis khatulistiwa. 

Hasilnya? Bumi seperti "menggemuk" di tengah dan putarannya jadi lebih pelan. Ini bukan teori semata. Data dari satelit, pengukuran level laut, dan bahkan komposisi kimia fosil purba membuktikannya.

Perubahan Iklim: Pelaku Utama di Balik Layar

Dulu, Bulan adalah "penjahat" utama yang memperlambat Bumi. Tapi kini, peran itu diambil alih oleh aktivitas manusia. 

Benedikt Soja, profesor geodesi antariksa di ETH Zurich, menyatakan dengan tegas: "Peningkatan pesat panjang hari ini menunjukkan bahwa laju perubahan iklim modern belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya sejak akhir Pliosen. Ini terutama bisa dikaitkan dengan pengaruh manusia."

Bagaimana caranya? Pemanasan global menyebabkan es kutub mencair dengan kecepatan yang belum pernah terjadi. Antara 2000 hingga 2020 saja, kontribusi perubahan iklim terhadap pemanjangan hari sudah mencapai 1,33 milidetik per abad. 

Dan proyeksi ke depan lebih mencengangkan: menjelang akhir abad ke-21, efek iklim ini diperkirakan akan mengalahkan bahkan pengaruh Bulan terhadap rotasi Bumi.

Di Indonesia, fenomena ini terasa relevan sekali. Negara kepulauan terbesar di dunia ini sudah bergulat dengan naiknya permukaan laut. 

Pantai-pantai di Jakarta, Semarang, hingga Papua mulai terancam. Air laut yang naik bukan hanya membanjiri daratan, tapi juga ikut "menggeser" massa Bumi secara global. Jadi, meski kita di sini tidak merasakan hari memanjang secara fisik  karena hanya milidetik dampak iklimnya sangat nyata di sekitar kita.

Angka Kecil yang Bisa Mengguncang Dunia Modern

Anda mungkin bertanya, "Milidetik doang, kenapa heboh?" Jawabannya ada di teknologi yang kita andalkan setiap hari. 

Waktu yang presisi adalah nyawa bagi sistem modern. GPS di ponsel Anda, satelit cuaca, jaringan penerbangan, bahkan transaksi keuangan global semuanya bergantung pada pengukuran rotasi Bumi yang akurat.

Para ilmuwan menggunakan jam atom untuk mengatur waktu universal. Kadang mereka harus menyisipkan "detik kabisat" untuk menyesuaikan dengan perlambatan Bumi. 

Jika perubahan ini terus berlanjut tanpa kendali, sistem navigasi antariksa bisa terganggu. Benedikt Soja mengingatkan: "Meskipun perubahannya hanya beberapa milidetik, hal itu dapat menyebabkan masalah di banyak bidang, misalnya dalam navigasi ruang angkasa yang presisi, yang membutuhkan informasi akurat tentang rotasi Bumi."

Bayangkan pilot pesawat atau kapten kapal yang mengandalkan GPS untuk navigasi di perairan Indonesia yang luas. Atau perusahaan telekomunikasi yang mengatur sinyal satelit. Gangguan kecil saja bisa berujung pada kesalahan besar. 

Belum lagi dampak jangka panjang terhadap infrastruktur digital yang semakin canggih di era 5G dan seterusnya.

Penelitian ini juga membandingkan dengan masa lalu. Sekitar 2 juta tahun lalu, ada periode singkat di mana laju perubahan mirip. Tapi tidak pernah secepat dan sebesar sekarang. Ini bukti bahwa manusia sedang "mengubah aturan main" planet kita lebih cepat dari proses alamiah jutaan tahun.

Di Indonesia: Antara Realita Iklim dan Perasaan Sehari-hari

Bagi masyarakat Indonesia, berita ini datang di saat yang tepat. Kita sudah merasakan dampak perubahan iklim setiap hari: banjir rob di pesisir, musim kemarau yang kian panjang, suhu udara yang naik. Kini, ilmuwan menambahkan satu lagi: bahkan "waktu" yang kita jalani sedang berubah.

Tentu saja, tidak ada yang tiba-tiba merasa hari jadi 25 jam. Perubahan ini terlalu halus untuk dirasakan oleh tubuh manusia. Tapi secara simbolis, ini pengingat bahwa Bumi kita sedang bereaksi terhadap emisi karbon yang kita hasilkan. 

Di Jakarta, misalnya, gedung-gedung tinggi dan lalu lintas padat menyumbang pemanasan. Sementara di pulau-pulau kecil, naiknya air laut mengancam rumah dan ladang.

Para ahli lokal di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memantau variasi rotasi Bumi untuk ramalan cuaca dan gempa. 

Mereka bisa mengonfirmasi bahwa tren global ini ikut memengaruhi data satelit yang digunakan di Indonesia. Jadi, meski judul berita terdengar dramatis, intinya adalah panggilan untuk sadar: hari yang memanjang ini adalah cermin dari bagaimana kita memperlakukan planet.

Benarkah Ini Tanda Kiamat?

Kata "kiamat" sering muncul di berita sensasional, tapi para ilmuwan tidak bicara soal akhir dunia besok. Ini bukan seperti film Hollywood di mana Bumi berhenti berputar. Yang mereka tekankan adalah laju perubahan yang belum pernah ada sebelumnya. 

Perubahan iklim modern berjalan begitu cepat sehingga efeknya pada rotasi Bumi menyamai atau bahkan melebihi proses alamiah selama jutaan tahun.

Soja dan timnya melihat ini sebagai bukti bahwa manusia telah menjadi kekuatan geologis utama. Jika kita terus membiarkan emisi gas rumah kaca naik, proyeksi menunjukkan hari bisa memanjang hingga 2,62 milidetik per abad di akhir abad ini. Bukan akhir zaman, tapi peringatan keras bahwa kita harus bertindak sekarang.

Di sisi lain, ada optimisme. Teknologi bisa beradaptasi. Ilmuwan sedang mengembangkan model prediksi yang lebih baik untuk mengelola detik kabisat dan navigasi. 

Tapi adaptasi saja tidak cukup. Mitigasi  mengurangi pemanasan  adalah kuncinya. Itu artinya beralih ke energi terbarukan, melindungi hutan, dan mengurangi sampah plastik yang ikut menyumbang masalah laut.

Langkah ke Depan: Bukan Hanya Ilmuwan yang Bertanggung Jawab

Sebagai bangsa yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia punya peran besar. Kita bisa jadi pemimpin di Asia Tenggara untuk aksi iklim. Bayangkan jika pemerintah mempercepat transisi energi, melestarikan mangrove yang menyerap karbon, dan mendidik generasi muda tentang pentingnya Bumi.

Di level pribadi, setiap kita bisa mulai dari hal kecil: hemat listrik, gunakan transportasi umum, tanam pohon. Perubahan kecil ini, jika dilakukan bersama, bisa memperlambat laju pemanasan. 

Dan siapa tahu, suatu saat nanti, rotasi Bumi bisa kembali stabil berkat usaha kolektif kita.

Studi ini mengingatkan kita bahwa Bumi bukan mesin yang tak terbatas. Ia hidup, bereaksi, dan kini sedang memberi sinyal. Hari yang makin panjang bukan akhir, tapi awal dari kesadaran baru. Ilmuwan telah bicara. Sekarang giliran kita mendengar dan bertindak.

Fenomena ini membuka mata banyak orang. Dari pekerja kantor di Jakarta yang merasa hari kerja terasa panjang, hingga nelayan di pesisir yang melihat laut semakin dekat. 

Semua terhubung dalam satu cerita besar: kita sedang mengubah rumah kita sendiri. Dan jika tidak segera diperbaiki, milidetik demi milidetik, perubahan itu akan semakin terasa.

Para ilmuwan dari berbagai belahan dunia kini sepakat bahwa ini saatnya untuk prioritas global. Konferensi iklim mendatang harus membahas tidak hanya suhu, tapi juga dampak halus seperti ini pada sistem planet. Indonesia, dengan posisi strategisnya, bisa menyuarakan ini di forum internasional.

Akhirnya, mari kita renungkan: jika Bumi saja sedang "bernapas" lebih lambat karena ulah kita, sudah waktunya kita berhenti dan memperbaiki. 

Bukan karena takut kiamat, tapi karena cinta pada generasi yang akan datang. Hari yang panjang ini bisa jadi hari kebangkitan kesadaran kita semua.

(Artikel ini disusun berdasarkan data ilmiah terkini per Maret 2026. Panjang hari terus dipantau oleh komunitas geodesi global untuk update lebih lanjut.)

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Hari di Bumi Disebut Bisa Bertambah Panjang, Ilmuwan Jelaskan Penyebab Ilmiahnya
  • Hari di Bumi Disebut Bisa Bertambah Panjang, Ilmuwan Jelaskan Penyebab Ilmiahnya
  • Hari di Bumi Disebut Bisa Bertambah Panjang, Ilmuwan Jelaskan Penyebab Ilmiahnya
  • Hari di Bumi Disebut Bisa Bertambah Panjang, Ilmuwan Jelaskan Penyebab Ilmiahnya
  • Hari di Bumi Disebut Bisa Bertambah Panjang, Ilmuwan Jelaskan Penyebab Ilmiahnya
  • Hari di Bumi Disebut Bisa Bertambah Panjang, Ilmuwan Jelaskan Penyebab Ilmiahnya

Posting Komentar

0%
Komentar 0 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link