Dari Minyak hingga Internet: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia

Ilustrasi Kabel Serat Optik Bawah Laut/Ai

ElangUPDATE - Di tengah berita konflik di Timur Tengah yang semakin memanas sepanjang Maret 2026, sebuah klaim viral beredar luas di media sosial. Banyak yang bertanya-tanya: apa betul hampir seluruh kabel serat optik dunia, tepatnya 97 persen, berada di jalur Selat Hormuz yang berada di perairan Iran? Klaim ini muncul begitu cepat, dibagikan ribuan kali, dan membuat banyak orang khawatir. Internet global bisa lumpuh hanya karena satu wilayah sempit itu? Mari kita telusuri bersama, dengan fakta yang jelas dan tanpa sensasi berlebih.

Selat Hormuz memang bukan nama asing. Selama puluhan tahun, wilayah ini dikenal sebagai chokepoint energi dunia. Sekitar 20 persen minyak mentah global melewati sana setiap hari, dari Teluk Persia menuju Samudra Hindia. 

Tapi sekarang, perhatian bergeser ke bawah permukaan laut. Di dasar laut yang dangkal dan sempit itu, katanya, ada jaringan kabel yang menghubungkan dunia digital. 

Apakah klaim 97 persen itu akurat? Jawabannya, tidak sepenuhnya. Tapi ceritanya jauh lebih menarik dan penting daripada sekadar angka.

Apa Sebenarnya Kabel Serat Optik Bawah Laut Itu?

Bayangkan jalan tol raksasa yang tak terlihat, membentang ribuan kilometer di dasar samudra. Itulah kabel serat optik bawah laut. 

Setiap kabel ini tipis seperti selang taman biasa, tapi di dalamnya mengalir puluhan ribu serat kaca yang membawa data dalam bentuk cahaya. Email, video streaming, transaksi perbankan, perdagangan saham, bahkan koordinasi militer antarnegara semuanya lewat sini.

Faktanya, lebih dari 99 persen lalu lintas internet internasional dunia bergantung pada kabel-kabel ini. Satelit memang ada, tapi hanya menangani kurang dari 1 persen. Alasannya sederhana: kabel lebih cepat, lebih murah, dan lebih stabil. 

Saat ini, ada sekitar 570 sistem kabel aktif di seluruh dunia, dengan total panjang mencapai 1,7 juta kilometer. Angka itu setara dengan mengelilingi Bumi lebih dari 40 kali. Dan setiap tahun, puluhan kabel baru ditambahkan, terutama untuk mendukung ledakan data AI dan cloud computing.

Kabel-kabel ini bukan barang sembarangan. Mereka dimiliki konsorsium perusahaan telekomunikasi besar seperti Google, Meta, Microsoft, serta operator nasional dari berbagai negara. 

Biaya satu sistem kabel bisa mencapai miliaran dolar. Tapi meski mahal, mereka rapuh. Anchors kapal, gempa bumi, bahkan ikan hiu yang menggigit semuanya pernah jadi penyebab putusnya kabel.

Statistik Global yang Sering Disalahpahami

Di sinilah akar kesalahpahaman dimulai. Banyak postingan viral mengatakan “97 persen kabel dunia ada di Hormuz”. Padahal, angka 97 persen itu merujuk pada sesuatu yang lain. 

Angka itu menggambarkan bahwa 97 hingga 99 persen lalu lintas data antar benua dunia memang lewat kabel bawah laut secara keseluruhan bukan hanya di satu tempat.

Di Selat Hormuz sendiri, situasinya berbeda. Menurut data dari pakar telekomunikasi seperti TeleGeography dan sumber industri terkini, hanya sekitar 17 kabel yang melintasi wilayah Teluk Persia, termasuk jalur masuk-keluar Selat Hormuz. 

Kabel-kabel ini memang membawa sekitar 30 persen lalu lintas internet global, terutama yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Itu angka yang signifikan, tapi jauh dari 97 persen.

Contoh kabel yang melintas di sana antara lain sistem EPEG (Europe-Persia Express Gateway), SeaMeWe-5, serta kabel bilateral seperti Kuwait-Iran, UAE-Iran, dan Pishgaman Oman-Iran. 

Beberapa kabel besar seperti bagian dari 2Africa Pearls dan rencana SeaMeWe-6 juga melewati rute itu. Namun, untuk menghindari masalah geopolitik dengan Iran, sebagian besar kabel ini diletakkan di perairan Oman, bukan langsung di wilayah Iran. Jalurnya ketat, kabel-kabel saling berdekatan di koridor sempit, sehingga rawan jika ada gangguan.

Bandirkan dengan Red Sea yang punya sekitar 17 kabel juga dan membawa mayoritas lalu lintas Eropa-Afrika-Asia. Hormuz bukan satu-satunya chokepoint. 

Ada juga Selat Malaka, Samudra Atlantik, dan Pasifik yang masing-masing punya ratusan kabel.

Mengapa Klaim Ini Viral dan Menghebohkan?

Klaim 97 persen ini muncul dari campuran fakta dan sensasi. Saat konflik Iran-AS memanas awal 2026, banyak akun media sosial  baik di Indonesia maupun internasional langsung menghubungkan Selat Hormuz dengan “saraf dunia”. Mereka bilang, kalau kabel putus, QRIS tidak jalan, ATM mati, perbankan global beku. Beberapa video bahkan menyebut “dunia bisa gelap total”.

Di Indonesia, postingan seperti itu cepat menyebar di Facebook, Instagram, dan X. Ada yang bilang “Iran punya senjata rahasia: potong kabel di Hormuz”. 

Padahal, seperti yang kita lihat tadi, bukan 97 persen kabel yang ada di sana, melainkan sebagian lalu lintas data yang lewat rute itu. Angka 97 persen yang asli adalah statistik global kabel secara keseluruhan, bukan lokasi spesifik.

Penyebab lain: orang sering menganalogikan dengan minyak. Karena 20 persen minyak dunia lewat Hormuz, lalu diasumsikan kabel juga sama. Ditambah lagi, berita tentang kabel putus di Red Sea tahun lalu – yang memperlambat internet Afrika dan Asia – membuat orang langsung panik saat mendengar Hormuz.

Ketegangan 2026: Risiko Nyata yang Tak Bisa Diabaikan

Sekarang, dengan situasi aktual Maret 2026, ancaman itu bukan lagi sekadar teori. Konflik membuat Selat Hormuz dan Red Sea sama-sama menjadi zona berbahaya. 

Kapal perbaikan kabel tak bisa masuk. Asuransi perang menolak, izin militer dibatasi, dan risiko serangan collateral dari kapal yang kehilangan kendali semakin tinggi.

Beberapa proyek besar terhenti. Bagian Pearls dari 2Africa yang akan menghubungkan Oman, UAE, Qatar, Bahrain, Kuwait, hingga India, terpaksa ditunda karena kontraktor Prancis Alcatel Submarine Networks mengeluarkan force majeure. 

Repair vessel yang biasanya berbasis di UAE sekarang terjebak. Satu kabel putus saja bisa menambah latency hingga ratusan milidetik, memperlambat akses cloud, streaming, dan transaksi keuangan.

Untuk Indonesia, dampaknya tak langsung tapi nyata. Sebagian lalu lintas internet barat kita melewati rute Asia-Eropa yang dekat Hormuz, termasuk melalui kabel SeaMeWe series. 

Kalau kapasitas turun, provider seperti Telkom, XL, atau Indosat harus rerouting ke jalur lain yang lebih panjang artinya internet lebih lambat dan mahal. Perbankan, e-commerce, bahkan layanan pemerintah digital bisa terganggu sementara.

Upaya Dunia Mengantisipasi dan Membangun Redundansi

Negara-negara Teluk tidak tinggal diam. Saudi, Qatar, dan UAE sedang buru-buru bangun kabel darat alternatif. Proyek Fibre in Gulf (FiG) dan koridor data melalui Irak-Suriah menuju Eropa sedang digodok. Ini mirip strategi pipa minyak dulu yang melewati darat untuk hindari Hormuz.

Di level global, operator sedang tambah kabel baru di rute Pasifik dan Atlantik. Diversifikasi jadi kunci. Indonesia sendiri, melalui proyek kabel nasional seperti Indonesia Global Gateway, sedang perkuat koneksi langsung ke Asia Timur dan Amerika, mengurangi ketergantungan pada rute Timur Tengah.

Tapi tetap saja, kabel bawah laut tak bisa sepenuhnya diganti. Satelit Starlink atau OneWeb memang membantu, tapi kapasitas dan latensinya belum setara untuk kebutuhan massal.

Kesimpulan: Bukan 97 Persen, Tapi Tetap Penting Diwaspadai

Jadi, apakah benar 97 persen kabel serat optik dunia berada di Selat Hormuz wilayah perairan Iran? Jawabannya jelas: tidak. Angka itu adalah mitos yang lahir dari kesalahpahaman statistik global. Yang ada di sana hanyalah sebagian kecil kabel meski membawa porsi lalu lintas yang cukup besar, sekitar 30 persen.

Namun, itu tidak berarti kita bisa menganggap remeh. Selat Hormuz tetap chokepoint strategis. Konflik saat ini membuktikan betapa rapuhnya infrastruktur digital kita. Satu gangguan kecil di dasar laut bisa memicu efek domino ke seluruh dunia.

Bagi kita di Indonesia, ini pelajaran berharga. Internet bukan lagi lux, melainkan kebutuhan dasar. Saatnya kita dukung diversifikasi rute kabel, investasi di teknologi satelit cadangan, dan terus pantau perkembangan geopolitik. Karena di era digital, perang tak lagi hanya soal rudal di udara – tapi juga serat kaca di bawah laut.

Yang terpenting, jangan langsung percaya klaim viral tanpa cek fakta. Dunia digital memang rapuh, tapi pengetahuan kita bisa jadi benteng pertama. Selat Hormuz memang krusial, tapi bukan raja mutlak kabel dunia. Fakta itu yang harus kita pegang erat di tengah hiruk-pikuk berita saat ini.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Dari Minyak hingga Internet: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia
  • Dari Minyak hingga Internet: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia
  • Dari Minyak hingga Internet: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia
  • Dari Minyak hingga Internet: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia
  • Dari Minyak hingga Internet: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia
  • Dari Minyak hingga Internet: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia

Posting Komentar

0%
Komentar 0 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link