Israel Meluncurkan Serangan ke Tehran, Iran Bersiap untuk Pembalasan Dahsyat



ElangUpdate - Jakarta, 28 Februari 2026 - Situasi di Timur Tengah kembali memanas secara dramatis setelah Israel mengumumkan peluncuran serangan pre-emptive terhadap Iran pada Sabtu pagi. 

Ledakan-ledakan dilaporkan terjadi di Tehran dan beberapa kota besar lainnya, sementara Amerika Serikat juga terlibat dalam operasi militer besar-besaran ini. 

Menurut laporan terbaru, Iran sedang mempersiapkan respons balasan yang disebut-sebut akan "menghancurkan" lawannya. Peristiwa ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlarut-larut antara Israel, AS, dan Iran, dengan potensi memicu perang regional yang lebih luas.

Perkembangan ini datang di tengah kegagalan negosiasi nuklir yang berkepanjangan, di mana Iran dituduh terus mengembangkan program senjata nuklirnya meskipun klaim bahwa program tersebut hanya untuk tujuan sipil. 

Serangan ini tidak hanya menargetkan fasilitas militer tetapi juga situs-situs strategis di ibu kota Iran, memicu kekhawatiran global tentang stabilitas kawasan.

Latar Belakang Konflik yang Memanas

Konflik antara Israel dan Iran bukanlah hal baru. Sejak Revolusi Islam 1979, hubungan kedua negara telah tegang, dengan Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial karena dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Gaza. 

Pada tahun 2024, eskalasi pertama terjadi ketika Iran meluncurkan serangan rudal langsung terhadap Israel sebagai respons atas pemboman konsulat Iran di Damaskus oleh Israel. Israel membalas dengan serangan terbatas ke wilayah Iran.

Puncak sementara terjadi pada Juni 2025 dalam apa yang dikenal sebagai "Perang Dua Belas Hari". Saat itu, Israel melakukan serangan udara besar-besaran terhadap situs nuklir dan militer Iran, diikuti oleh respons Iran berupa lebih dari 550 rudal dan 1.000 drone. 

AS terlibat dengan menyerang fasilitas Iran, meskipun gencatan senjata akhirnya dicapai. Namun, gencatan senjata itu rapuh, dan negosiasi nuklir gagal, dengan Iran dilaporkan mempercepat rekonstruksi programnya.

Menjelang Februari 2026, ketegangan meningkat lagi. Israel mengklaim adanya "ancaman mendadak" dari Iran, termasuk pengembangan rudal balistik dan nuklir yang bisa menjangkau wilayahnya.

Presiden AS Donald Trump, yang kembali berkuasa, telah berjanji untuk mengambil sikap tegas terhadap Iran, menyebutnya sebagai "ancaman bagi perdamaian dunia". Koordinasi antara Israel dan AS telah direncanakan berbulan-bulan, dengan tanggal peluncuran diputuskan beberapa minggu sebelumnya.

Detail Serangan Israel dan AS

Serangan dimulai pada pagi hari Sabtu, 28 Februari 2026, dengan Israel mengaktifkan sirene serangan udara di seluruh negaranya sebagai persiapan menghadapi kemungkinan balasan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa "Negara Israel meluncurkan serangan pre-emptive terhadap Iran untuk menghilangkan ancaman terhadap Negara Israel." 

Operasi ini melibatkan rudal dan pesawat tempur yang menargetkan situs militer, fasilitas nuklir, dan gedung-gedung pemerintahan di Tehran, Qom, Isfahan, Kermanshah, dan Karaj. 

Amerika Serikat segera bergabung, dengan Presiden Trump mengumumkan melalui video di Truth Social bahwa AS telah memulai "operasi tempur besar-besaran" untuk "menghilangkan ancaman mendadak dari rezim Iran". 

Serangan AS melibatkan pesawat tempur dari pangkalan dan kapal induk di Timur Tengah, dengan puluhan serangan udara dilaporkan. Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa operasi ini lebih luas daripada serangan sebelumnya pada Juni tahun lalu, yang hanya menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran.

Ledakan-ledakan di Tehran dilaporkan oleh media Iran dan saksi mata, dengan asap membubung dari pusat kota. 

Beberapa laporan menyebutkan serangan terhadap kementerian-kementerian di Tehran dan serangan di provinsi barat seperti Ilam. Ruang udara Israel dan Iran ditutup, sekolah dan tempat kerja di Israel ditutup, dan negara itu berada dalam keadaan darurat. 

Respons Iran dan Ancaman Pembalasan

Iran tidak tinggal diam. Media negara Iran melaporkan bahwa angkatan bersenjata sedang mempersiapkan respons balasan. 

Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Tehran sedang mempersiapkan pembalasan yang "menghancurkan", dan situasi sekarang "di luar kendali pihak lain".  Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi aman di luar Tehran. 

Beberapa jam setelah serangan, Iran dilaporkan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke arah Israel. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengklaim ini sebagai "pembalasan menghancurkan" atas serangan bersama AS-Israel. Sirene berbunyi di seluruh Israel, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem, dengan sistem Iron Dome dan Arrow bekerja keras untuk mencegat ancaman masuk.

Iran memperingatkan bahwa respons lebih lanjut dari Israel akan menghadapi kekuatan "lebih destruktif".

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan ini bertujuan untuk menghilangkan "ancaman eksistensial" dan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk mengambil nasib mereka sendiri. Ia memuji kepemimpinan Trump dalam aksi bersama ini. 

Implikasi Global dan Ekonomi

Eskalasi ini memiliki dampak luas. Pasar global langsung bereaksi: harga minyak melonjak 5-10%, emas naik 2-3%, sementara indeks saham seperti S&P turun 1-2%. Sektor pertahanan justru naik 3-5% karena antisipasi konflik berkepanjangan. 

Rusia telah menangguhkan penerbangan ke Iran dan Israel, sementara negara-negara lain seperti Prancis dan Inggris menyerukan penahanan diri.

Dari perspektif geopolitik, serangan ini semakin memperburuk hubungan AS dengan Iran, yang telah tegang sejak penarikan AS dari kesepakatan nuklir JCPOA pada 2018. 

Keterlibatan AS di bawah Trump menandai kebijakan "tekanan maksimum" yang diperbarui, tetapi juga berisiko memicu perang lebih luas yang melibatkan sekutu Iran seperti Rusia dan Cina.

Di sisi kemanusiaan, warga sipil di kedua belah pihak menjadi korban. Di Tehran, warga berlarian mencari perlindungan saat ledakan terjadi, sementara di Israel, jutaan orang berada dalam bunker menunggu rudal Iran.

Organisasi internasional seperti PBB mendesak gencatan senjata segera untuk menghindari bencana kemanusiaan.

Prospek Masa Depan dan Potensi Resolusi

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pejabat AS menyatakan bahwa serangan bisa berlangsung beberapa hari, dengan tujuan melemahkan kemampuan militer dan nuklir Iran Namun, jika Iran membalas dengan kekuatan penuh, termasuk melalui proksinya di Suriah atau Lebanon, konflik bisa meluas ke perang regional.

Beberapa analis percaya bahwa ini bisa menjadi katalisator untuk perubahan rezim di Iran, seperti yang diharapkan Netanyahu. 

Namun, sejarah menunjukkan bahwa intervensi militer sering kali memperkuat rezim daripada melemahkannya. Diplomasi masih menjadi harapan, meskipun prospeknya suram saat ini.

Dalam konteks lebih luas, konflik ini menggarisbawahi pentingnya dialog internasional. Negara-negara seperti Indonesia, sebagai anggota G20, bisa memainkan peran dalam menyerukan perdamaian dan mendukung resolusi PBB untuk denuklirisasi kawasan.

Kesimpulannya, serangan Israel ke Tehran dan keterlibatan AS telah membawa Timur Tengah ke ambang perang besar. Dengan Iran bersiap balas dendam, dunia menahan napas menunggu perkembangan selanjutnya. Semoga akal sehat menang, dan konflik ini bisa diselesaikan melalui meja perundingan daripada medan perang.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Israel Meluncurkan Serangan ke Tehran, Iran Bersiap untuk Pembalasan Dahsyat
  • Israel Meluncurkan Serangan ke Tehran, Iran Bersiap untuk Pembalasan Dahsyat
  • Israel Meluncurkan Serangan ke Tehran, Iran Bersiap untuk Pembalasan Dahsyat
  • Israel Meluncurkan Serangan ke Tehran, Iran Bersiap untuk Pembalasan Dahsyat
  • Israel Meluncurkan Serangan ke Tehran, Iran Bersiap untuk Pembalasan Dahsyat
  • Israel Meluncurkan Serangan ke Tehran, Iran Bersiap untuk Pembalasan Dahsyat

Posting Komentar

0%
Komentar 0 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link