BREAKING: Serangan Rudal Iran Sasar Al Udeid hingga Armada ke-5 AS, Situasi Makin Memanas


ElangUpdate - Jakarta, 28 Februari 2026 -  Pada tanggal 28 Februari 2026, dunia dikejutkan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mencapai puncaknya. Iran melancarkan serangan rudal balistik terhadap beberapa pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di wilayah Teluk Persia sebagai respons atas serangan bersama AS dan Israel terhadap fasilitas-fasilitas di Iran. 

Menurut laporan dari berbagai sumber terpercaya, target utama mencakup Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), serta Pangkalan Armada ke-5 AS di Bahrain. 

Serangan ini menandai babak baru dalam ketegangan yang telah membara selama bertahun-tahun, memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas. 

Latar Belakang Konflik

Konflik antara Iran, AS, dan Israel bukanlah hal baru. Ketegangan ini berakar dari perselisihan ideologis, isu nuklir, dan pengaruh regional. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran telah menjadi musuh utama bagi AS dan sekutunya di Timur Tengah. 

Program nuklir Iran menjadi titik sentral perselisihan, dengan AS dan Israel menuduh Teheran mengembangkan senjata nuklir, meskipun Iran bersikeras bahwa program tersebut untuk tujuan damai.

Pada awal 2026, situasi semakin memanas setelah AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melakukan serangkaian sanksi ekonomi yang lebih ketat terhadap Iran. Trump, yang kembali menjabat setelah pemilu 2024, mengumumkan "operasi tempur besar" terhadap Iran untuk menghilangkan ancaman yang dianggap mendesak. 

Serangan bersama AS-Israel pada 28 Februari pagi waktu setempat menargetkan kota-kota utama Iran seperti Teheran, menyebabkan ledakan-ledakan besar dan kerusakan infrastruktur. Iran, melalui Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), segera merespons dengan meluncurkan rudal-rudal balistik ke pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk. 

Latar belakang ini juga melibatkan peran proxy Iran seperti Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, dan milisi di Irak serta Suriah. 

Serangan-serangan sebelumnya, termasuk pada Juni 2025 ketika Iran menyerang Al Udeid sebagai balasan atas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, menunjukkan pola eskalasi yang berulang. Kali ini, serangan lebih luas dan melibatkan lebih banyak negara tuan rumah pangkalan AS.

Detail Serangan Rudal Iran

Serangan dimulai tak lama setelah ledakan di Teheran dilaporkan. Menurut agen berita semi-resmi Iran, Fars, IRGC menargetkan empat pangkalan utama AS. Rudal-rudal seperti Khorramshahr dan Sejjil, yang memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer, digunakan dalam operasi ini. Rudal-rudal ini mampu menjangkau seluruh wilayah Teluk dari Iran, membuat pangkalan-pangkalan tersebut rentan.

  • Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar: Ini adalah markas besar Komando Pusat AS (CENTCOM) dan menampung ribuan personel militer. Serangan menyebabkan ledakan dan asap tebal terlihat dari kejauhan. Qatar melaporkan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat beberapa rudal, tetapi kerusakan dilaporkan pada fasilitas pendukung. 
  • Pangkalan Al Salem, Kuwait: Pangkalan ini menjadi tuan rumah bagi sayap ekspedisi udara AS. Kuwait menutup wilayah udaranya sementara sebagai langkah pencegahan. Serangan menyebabkan kerusakan pada landasan pacu dan bangunan administrasi. 
  • Pangkalan Udara Al Dhafra, UEA: Berbasis di Abu Dhabi, pangkalan ini menampung pasukan udara AS. UEA mengonfirmasi intersepsi rudal, tetapi ledakan dilaporkan di sekitar area tersebut, memicu kekhawatiran keamanan nasional.
  • Pangkalan Armada ke-5 AS, Bahrain: Markas Armada ke-5 AS di Manama menjadi target utama. Bahrain menyebut serangan ini sebagai "pengkhianatan" dan melaporkan asap dari fasilitas layanan. Ini adalah serangan pertama yang langsung menargetkan angkatan laut AS di wilayah tersebut.

Serangan ini dilaporkan melibatkan lusinan rudal, dengan beberapa berhasil dicegat oleh sistem pertahanan seperti Patriot AS. Namun, dampaknya tetap signifikan, menunjukkan kemampuan Iran untuk menembus pertahanan regional.

Dampak dan Korban

Hingga saat ini, laporan korban masih bervariasi. AS mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa di pihak mereka, berkat evakuasi sebelumnya dari beberapa pangkalan. Namun, kerusakan infrastruktur diperkirakan mencapai jutaan dolar. Di sisi Iran, serangan awal AS-Israel menyebabkan ratusan korban sipil dan militer, meskipun angka pasti belum dikonfirmasi.

Dampak ekonomi juga besar. Kuwait dan UEA menutup wilayah udara mereka, mengganggu lalu lintas penerbangan internasional. Harga minyak dunia melonjak tajam karena kekhawatiran pasokan dari Teluk Persia terganggu. Selain itu, evakuasi personel AS dari pangkalan-pangkalan seperti Al Udeid dan Bahrain menunjukkan persiapan untuk konflik berkepanjangan.

Secara sosial, serangan ini memicu demonstrasi di berbagai negara. Di Iran, rakyat bersatu di balik pemerintah, sementara di negara-negara Teluk, ada kekhawatiran akan keterlibatan lebih dalam dalam konflik yang bukan milik mereka.

Reaksi Internasional

Reaksi dunia datang dengan cepat. Presiden Trump mengumumkan bahwa AS akan melanjutkan operasi militer dan memperingatkan Iran untuk meletakkan senjata atau menghadapi "kematian pasti". Israel menyatakan bahwa serangan mereka adalah "pencegahan" terhadap ancaman serius. 

Bahrain menyebut serangan sebagai pelanggaran kedaulatan, sementara UEA menyatakan hak penuh untuk membalas. Qatar, meskipun menjadi target, tetap netral secara diplomatik karena hubungannya dengan Iran. PBB mendesak penghentian segera eskalasi, dengan Sekjen Antonio Guterres menyerukan dialog. 

Negara-negara seperti China dan Rusia mengutuk serangan AS-Israel sebagai agresi, sementara sekutu AS seperti Inggris dan Prancis mendukung tindakan pencegahan. Di Asia, India mengeluarkan peringatan perjalanan ke wilayah tersebut. 

Analisis dan Prospek Masa Depan

Analis militer menilai bahwa serangan Iran ini menunjukkan kemajuan teknologi rudal mereka, mampu menjangkau target dengan presisi tinggi. Namun, ini juga mempertaruhkan respons yang lebih keras dari AS, yang telah mengerahkan kekuatan terbesar di Timur Tengah sejak Perang Irak 2003.

Prospek masa depan suram. Jika konflik berlanjut, bisa melibatkan lebih banyak negara dan mengganggu perdagangan global. 

Diplomasi mungkin menjadi kunci, dengan mediasi dari Qatar atau Turki. Namun, dengan sikap keras Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, perdamaian tampak jauh.

Dalam konteks lebih luas, ini menggarisbawahi kerapuhan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Negara-negara Teluk kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menjadi tuan rumah pangkalan AS atau menghindari konflik dengan Iran. 

Eskalasi ini juga memengaruhi isu global seperti perubahan iklim dan ekonomi, karena fokus dunia teralihkan ke konflik militer.

Serangan rudal Iran pada 28 Februari 2026 adalah titik balik dalam dinamika Timur Tengah. Dengan target pangkalan-pangkalan kunci AS, Iran menunjukkan tekadnya untuk membalas agresi. 

Dunia kini menunggu langkah selanjutnya, berharap dialog bisa mencegah perang total. Namun, sejarah mengajarkan bahwa konflik seperti ini sering berlarut-larut, meninggalkan luka yang dalam bagi semua pihak terlibat.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • BREAKING: Serangan Rudal Iran Sasar Al Udeid hingga Armada ke-5 AS, Situasi Makin Memanas
  • BREAKING: Serangan Rudal Iran Sasar Al Udeid hingga Armada ke-5 AS, Situasi Makin Memanas
  • BREAKING: Serangan Rudal Iran Sasar Al Udeid hingga Armada ke-5 AS, Situasi Makin Memanas
  • BREAKING: Serangan Rudal Iran Sasar Al Udeid hingga Armada ke-5 AS, Situasi Makin Memanas
  • BREAKING: Serangan Rudal Iran Sasar Al Udeid hingga Armada ke-5 AS, Situasi Makin Memanas
  • BREAKING: Serangan Rudal Iran Sasar Al Udeid hingga Armada ke-5 AS, Situasi Makin Memanas

Posting Komentar

0%
Komentar 0 Facebook Twitter WhatsApp Telegram Copy Link