BREAKING News: Serangan Gabungan AS–Israel Menghantam Tehran — Kantor Khamenei Hampir Tersapu Bom!
![]() |
| Kantor berita Fars yang berafiliasi dengan negara Iran melaporkan tiga ledakan di pusat kota Teheran. sumber: X |
ElangUpdate - Tehran, 28 Februari 2026 – Dalam sebuah perkembangan dramatis yang mengguncang Timur Tengah, Israel dengan dukungan Amerika Serikat telah meluncurkan serangan militer ke ibu kota Iran, Tehran, pada Sabtu siang ini.
Serangan tersebut secara spesifik menargetkan area di sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai keberadaan Khamenei di lokasi saat serangan terjadi, tetapi laporan awal menunjukkan bahwa ia telah dipindahkan ke tempat aman.
Insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan yang telah membara antara ketiga negara tersebut, terutama setelah kegagalan pembicaraan nuklir baru-baru ini.
Peristiwa ini terjadi hanya dua hari setelah putaran pembicaraan nuklir di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan, di mana Iran menolak tuntutan AS untuk menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya.
Serangan ini tidak hanya menjadi pukulan bagi infrastruktur Iran tetapi juga simbol dari kegagalan diplomasi yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Apa yang Terjadi di Tehran?
Serangan dimulai sekitar pukul 08:00 waktu setempat, dengan ledakan-ledakan bergema di pusat kota Tehran. Saksi mata melaporkan melihat asap tebal membubung dari distrik pusat pemerintahan, di mana kantor Ayatollah Khamenei berada.
Menurut laporan dari berbagai sumber, serangan ini melibatkan rudal dan serangan udara yang dikoordinasikan antara pasukan Israel dan AS.
Presiden AS Donald Trump secara pribadi mengumumkan operasi ini melalui video singkat, menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk "menghilangkan ancaman mendesak dari rezim Iran".
Media Iran seperti televisi negara melaporkan ledakan di berbagai lokasi, termasuk Tehran, Tabriz, Qom, Karaj, dan kota-kota lainnya.
Salah satu target utama adalah kompleks kantor Pemimpin Tertinggi, yang juga mencakup Istana Presiden dan Dewan Keamanan Nasional. Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa serangan dilakukan melalui udara dan laut, dengan fokus pada situs militer dan intelijen Iran.
Hingga kini, tidak ada laporan korban jiwa yang resmi, tetapi warga Tehran melaporkan getaran hebat dan suara ledakan yang membuat jendela-jendela bergetar.
Dalam postingan di platform X (sebelumnya Twitter), pengguna melaporkan video dan foto ledakan, dengan beberapa warga Tehran bahkan bersorak dari atap rumah mereka, meneriakkan "Mati Khamenei", menunjukkan perpecahan dalam masyarakat Iran.
Israel menyatakan bahwa serangan ini bersifat preventif untuk menghilangkan ancaman, sementara Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan keadaan darurat nasional, mengantisipasi serangan balasan berupa drone dan rudal dari Iran.
Operasi ini direncanakan selama berbulan-bulan, dengan waktu pelaksanaan ditentukan beberapa minggu lalu, menurut pejabat keamanan.
Iran telah menutup wilayah udaranya selama enam jam pasca-serangan, dan pejabat Iran menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan "balasan telak" terhadap Israel dan AS.
Latar Belakang Konflik: Ketegangan yang Membara
Konflik antara Israel, AS, dan Iran bukanlah hal baru. Akar masalah ini dapat ditelusuri kembali ke Revolusi Islam Iran pada 1979, ketika rezim Ayatollah Ruhollah Khomeini mengambil alih kekuasaan dan memposisikan Iran sebagai musuh utama Israel dan AS.
Sejak itu, Iran telah mendukung kelompok-kelompok militan seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Gaza, yang sering kali bentrok dengan Israel.
Pada era modern, isu utama adalah program nuklir Iran. Pada 2015, kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) ditandatangani di bawah pemerintahan Obama, yang membatasi pengayaan uranium Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Namun, pada 2018, Presiden Trump menarik AS dari kesepakatan tersebut, menyebabkan Iran secara bertahap melanggar batasannya. Ketegangan meningkat pada 2025 ketika Israel melancarkan perang 12 hari terhadap situs nuklir Iran, diikuti serangan AS.
Pembicaraan nuklir terbaru di Jenewa, yang berakhir tanpa hasil pada 26 Februari 2026, menjadi pemicu langsung. AS menuntut nol pengayaan uranium di tanah Iran, sementara Iran bersikeras pada haknya untuk pengayaan sipil.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sebelumnya memperingatkan bahwa perang regional akan melibatkan basis AS di wilayah tersebut.
Kegagalan diplomasi ini membuat serangan militer menjadi pilihan yang tak terhindarkan bagi Israel dan AS, yang melihat Iran semakin mendekati kemampuan nuklir threshold.
Selain itu, dukungan Iran terhadap proksi regionalnya telah menyebabkan serangan terhadap Israel, termasuk rudal dari Lebanon dan Yaman.
Serangan hari ini dapat dilihat sebagai respons terhadap ancaman tersebut, meskipun hal ini juga mempertaruhkan stabilitas global, mengingat Iran mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital untuk pasokan minyak dunia.
Reaksi Internasional dan Respons Iran
Reaksi global terhadap serangan ini beragam. Presiden Trump membenarkan operasi sebagai "operasi tempur besar" untuk melindungi kepentingan AS dan sekutunya.
Di sisi lain, pejabat Iran menyatakan bahwa mereka akan "membalas" dengan kekuatan penuh, dengan televisi negara melaporkan persiapan untuk serangan balasan.
India telah mengeluarkan advisory perjalanan bagi warganya di wilayah tersebut, sementara Irak dan Iran menutup wilayah udara mereka.
Uni Eropa menyatakan kekhawatiran atas eskalasi, dengan Menteri Luar Negeri UE Josep Borrell menyerukan penahanan diri dari semua pihak.
Rusia dan China, sekutu Iran, kemungkinan akan mengutuk serangan ini di Dewan Keamanan PBB, meskipun veto AS mungkin menghalangi resolusi apa pun.
Di platform media sosial seperti X, reaksi bervariasi dari dukungan terhadap Israel hingga kecaman terhadap agresi.
Beberapa postingan menunjukkan warga Iran yang anti-rezim bersorak, sementara yang lain memprediksi akhir dari radikalisme Islam di wilayah tersebut.
Dampak Potensial: Ekonomi, Keamanan, dan Geopolitik
Serangan ini memiliki implikasi luas. Secara ekonomi, harga minyak global kemungkinan akan melonjak karena kekhawatiran atas gangguan di Selat Hormuz, di mana 20% minyak dunia melewati. Pasar saham di Timur Tengah dan AS mungkin mengalami volatilitas, dengan investor mencari aset aman seperti emas.
Dari segi keamanan, Israel telah menyatakan keadaan darurat, mengantisipasi serangan rudal dari Iran atau proksinya. AS memiliki basis di Irak, Suriah, dan Teluk yang rentan terhadap serangan.
Jika Iran mengaktifkan proksinya seperti Hezbollah atau Houthi, konflik bisa meluas ke Lebanon, Yaman, dan bahkan ke Laut Merah, mengganggu lalu lintas maritim global.
Geopolitiknya, serangan ini memperkuat aliansi AS-Israel melawan Iran, tetapi juga bisa mendorong Iran lebih dekat ke Rusia dan China.
Dalam jangka panjang, ini mungkin mempercepat program nuklir Iran sebagai respons defensif, alih-alih menghentikannya. Analis memprediksi bahwa perang regional bisa melibatkan lebih banyak aktor, termasuk Turki dan Arab Saudi, yang memiliki ketegangan sendiri dengan Iran.
Selain itu, dampak kemanusiaan tidak boleh diabaikan. Warga sipil di Tehran dan kota-kota lain berisiko tinggi, dengan potensi korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Organisasi seperti Palang Merah Internasional telah siap untuk merespons krisis kemanusiaan yang mungkin timbul.
Analisis: Apakah Ini Awal dari Perang Lebih Besar?
Serangan ini bukan sekadar respons taktis; ini adalah pernyataan strategis. Israel dan AS tampaknya percaya bahwa diplomasi telah gagal, dan tindakan militer adalah satu-satunya cara untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa serangan semacam ini sering kali memperkuat resolusi musuh daripada melemahkannya. Misalnya, serangan AS terhadap Irak pada 2003 justru menciptakan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis.
Di sisi Iran, Pemimpin Tertinggi Khamenei, yang berusia 86 tahun, telah menjadi simbol ketahanan rezim. Jika ia selamat, ini bisa menyatukan bangsa melawan "musuh eksternal". Namun, laporan perpecahan internal, seperti sorakan anti-Khamenei di Tehran, menunjukkan bahwa rezim mungkin menghadapi tantangan domestik.
Dalam konteks global, serangan ini terjadi di tengah ketegangan lain seperti konflik Ukraina dan Taiwan, di mana AS terlibat. Pembagian sumber daya militer bisa melemahkan posisi AS di arena lain. Selain itu, dengan pemilihan presiden AS yang mendekat, Trump mungkin menggunakan ini untuk memperkuat citra "pemimpin kuat"-nya.
Kesimpulan: Menuju Penahanan atau Eskalasi?
Serangan Israel dan AS ke Tehran pada 28 Februari 2026 menandai bab baru dalam konflik Timur Tengah yang panjang.
Dengan target langsung ke kantor Ayatollah Khamenei, ini bukan hanya serangan militer tetapi juga pukulan simbolis terhadap kepemimpinan Iran. Sementara tujuannya adalah menghilangkan ancaman, risiko eskalasi menjadi perang regional sangat tinggi.
Komunitas internasional harus mendorong dialog untuk mencegah bencana lebih lanjut. Bagi Iran, ini adalah ujian ketahanan; bagi Israel dan AS, ini adalah taruhan berisiko.
Hanya waktu yang akan menjawab apakah ini akan membawa perdamaian atau kekacauan yang lebih besar. Pantau perkembangan terbaru, karena situasi ini berkembang dengan cepat.

Posting Komentar